Minggu, 20 Desember 2009

Bupati Resmikan Jalan Poros Dusun Baet



SEKILAP. Bupati Landak Dr Adrianus AS meresmikan pembangunan jalan poros Dusun Baet Desa Sekilap Kecamatan Mandor, Jumat (18/12). Ia juga menyempatkan diri untuk berkunjung di kebun sawit milik PT.Mustikha Abadi Khatulistiwa (MAK) yang memang berlokasi di daerah setempat.
“Masyarakat harus bersyukur karena pemerintah telah membangun jalan dan perkebunan sawit di desa ini. Masyarakat harus mampu mempertahankan dan merawat pembangunan yang ada ini,” pesan Adrianus.
Biasanya, lanjut Adrianus, pemerintah sudah membangun tapi masyarakat tidak mampu merawatnya, dia mencontohkan jalan desa yang dibangun oleh pemerintah itu ada ketentuanya, kekuatan jalan maksimal mobil yang lewat harus standar tapi di lalui oleh mobil yang berlebihan muatan. “Tentu jalan ini akan cepat rusak, ujarnya.
Ia juga mengatakan, adanya perkebunan sawit juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat, masyarakat bisa bekerja di perkebunan sesuai dengan ketentuan yang ada. Masalah batas wilayah perusahaan sudah jelas masing-masing sudah ada petanya. “Jadi jangan mengerjakan lahan perusahaan lain,” tegas dia.
Kepala Desa Sekilap Sukaran mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Landak, karena sudah membangun jalan 14 kilometer dari Sekilap ke Dusun Baet dan PT. MAK. Perkebunan sawit itu sangat didukung oleh masyarakat setempat, ini dibuktikan banyak warga dusun Baet yang dulunya bekerja dan pindah di luar, tapi sekarang banyak yang kembali atau pulang dan bekerja di PT.MAK. penduduk Baet jadi bertambah ramai. “Kami juga berharap agar nanti di dusun Baet di bangun sekolah dasar karena banyak anak selama ini pergi sekolah berjalan kaki hampir 12 kilometer ke dusun Penawar. Kami masyarakat sudah menyiapkan lahan untuk bangunan sekolah,” ungkap Sukaran.
Camat Mandor Marius Baneng juga mengucapkan sangat bersyukur dan merasakan pembangunan yang ada, Baik pembangunan jalan maupun pembangunan gedung sekolah dan pembangunan kebun sawit yang ada di wilayah kami. “Masyarakat sangat mendukung dan bersyukur adanya pembangunan di desa dan perkebunan sawit yang ada. Kita berharap masyarakat, perusahaan dan pemerintah sama-sama mempertahankan pembangunan yang sudah ada,” tandas dia (rie)

Sabtu, 05 Desember 2009

Kepsek SMPN 3 Menyuke Bantah Tilep Gaji

*Thomy: Guru Yustina Jarang Masuk

Kepala Sekolah (Kepsek) SMP Negeri 3 Menyuke Thomy Abiasan melakukan klarifikasi terhadap pernyataan Yustina seorang guru yang menuding dirinya telah menilep gajinya seperti yang diberitakan Equator pada 12 November lalu. “Saya hanya menahan gaji guru tersebut. Sampai sekarang gaji dia (Yustina, Red) ada dengan saya,” kata Thomy kepada wartawan di Ngabang, Jumat (4/12) kemarin.
Menurut dia, gaji milik Yustina yang ditahannya Rp. 5,075 juta, karena selama tiga bulan sejak September -Nopember 2007 lalu. “Saya sudah menghadap pak Bupati membicarakan masalah ini. Apalagi sebelumnya Bupati menyatakan bahwa sebulan saja guru tidak masuk, kita pecat. Bupati sendiri meminta supaya gaji tersebut dikembalikan ke kas Negara, tapi saya masih berfikir nasib seseorang,” ungkapnya.
Kemudian, pihaknya juga sudah memberikan dispensasi terhadap Yustina sebagai guru Bimbingan Konseling (BK) di SMPN 3 Menyuke dan saat itu ia diperkenankan menjalankan aktivitas di sekolah tersebut salama tiga hari. “Selanjutnya pada tiga harinya lagi biarlah saya yang mikulnya. Sebab saya tahu karena timpat tinggalnya di Pontianak. Tapi kadang-kadang meskipun sudah diberi dispensasi 3 hari, ia juga tidak masuk sekolah sampai seminggu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, setelah penerimaan murid baru tahun ajaran 2007/2008, Yustina tidak pernah masuk sekolah, dan yang bersangkutan beralasan karena ia melaksanakan tugas ditempat yang baru yakni di SMPN 3 Mandor. Tapi Yustina malah banyak mengajar di SMPN Mandor. Maka pihaknya pun berkonsultasi dengan Kepsek SMA bersangkutan. “Tapi Kepseknya juga tidak mengerti soal kepindahan Yustina ini. Dia hanya terima saja, karena Yustina memang ingin mengajar di sekolah itu. Kepseknyapun kirim surat kepada saya soal kepindahan Yustina, hingga sekarang saya tidak tahu kemana sebenarnya tempat Yustina mengajar,” ungkap Thomy dengan kesal.
Thomy menambahkan, maksud ia menahan gaji Yustina agar ia kembali mengajar di SMPN 3 Mandor sesuai dengan SK. Karena pihaknya juga tetap berpegang rekomendasi dari Kepala Dinas Pendidikan Landak yang pasa saat itu masih dijabat Lukas Kanoh. Adapun rekomendasi tersebut dijelaskan bahwa Kepala Dinas Pendidikan Landak menyetujui kepindahan Yustina ke SMPN 3 Mandor, tapi dengan catatan sebelum adanya penempatan definitif, Yustina tetap mengajar di SMPN 3 Menyuke. “Tapi belum dikeluarkan penempatan definitif, Yustina sudah pindah ke Mandor,” katanya. (rie)

Warga Kecewa, Kontraktor Tak Bertanggungjawab

MANDOR. Pengerjaan proyek jalan Mandor-Tiang Aji terus menjadi sorotan masyarakat, mereka menyayangkan ungkapan kontraktor yang mengaku tidak ada masalah dalam pengerjaan jalan tersebut. Selain itu, camat setempat juga mengaku kontraktor tidak pernah koordinasi.
“Selama pengerjaan kami setiap hari lewat dan melihat jalan dikerjakan dengan menggunakan batu kong warna merah bukan batu kemenyan seperti jalan di tempat lain,” ungkap Sea, warga Tiang Aji kepada Equator, Jumat (4/12) kemarin.
Ia kesal melihat jalan dibangun asal-asalan, dan pihaknya pernah menanyakan melalaui handphon kepada pihak kontraktor yaitu Yakob, tapi dia menjawab, bahwa dia bekerja sudah sesuai dengan bistek yang ada dan sudah ditentukan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU), bahkan BPK dan Konsultan pun sudah turun langsung memeriksa jalan tersebut. “Dan jalan itu tidak masalah sudah sesuai bistek jadi kalau masyarakat mau bertanya silakan datang di dinas PU Landak,” katanya.
Senada diutarakan Edy warga Mandor, dia mengaku heran proyek jalan masih tahap pengerjaan sudah rusak bagaimana ketahanan jalan itu apa pemerintah menganggarkan jalan itu hanya untuk dua atau tiga bulan saja dan tahun depan dibangun lagi. “Saya sangat kecewa dengan pihak kontraktor yaitu Yakob. Saya menanyakan melalui HP, karena dia tidak pernah datang mengawasi pekerjaannya, bagaimana mengenai jalan yang rusak apakah akan diperbaiki atau tidak.? Tapi dia jawab itu urusan PU, saya hanya pelaksana, silahkan datang di dinas PU. Langsung mematikan Hpnya,” kata Edy.
Edy berharap kepada Dinas PU atau dinas terkait lainnya harus turun langsung melihat pekerjaan jalan tersebut jangan hanya terima laporan di atas meja.
Terpisah, Camat Mandor Marius Baneng juga mengaku sangat menyesalkan kalau selama ini pihak kontraktor tidak pernah ada koordinasi atau lapor dengan camat. Dan dia pun tidak tahu siapa kontraktornya, biasanya proyek kan ada plang nama perusahaan yang mengerjakan tapi itukan tidak ada. “Kita hanya percayakan kepada Kades untuk mengawasi proyek yang ada di desa masing-masing,” kata Marius.
Diberitakan sebelumnya, Yakob selaku pelaksana proyek menegaskan, bahwa nanti masih ada dana lanjutan untuk pemeliharaan karena proyek tersebut adalah multiyears dari Pemerintah Provinsi. “Tidak ada masalah, itu proyek tingkat I, nanti masih ada lagi dana pemeliharaan. Siapa yang komentar bermasalah seperti di koran kita minta tanggungjawab,” ungkap Yakob dari pihak pelaksana proyek kepada wartawan melalui via selularnya, Kamis (3/12).
Ia juga mengaku jalan dan pembangunan drainase juga sudah dikerjakan tidak ada masalah, bahkan saat ini masih proses pengerjaan karena masa kontrak baru habis pada 29 Desember 2009 mendatang. “Jadi disana (lokasi,red) masih ada yang kerja,” ujarnya.(rie)

Jalan Tiang Aji, Kontraktor Bantah Kerjannya Amburadul



NGABANG. Proyek peningkatan jalan Mandor-Tiang Aji yang disorot masyarakat dan anggota DPRD Landak karena amburadul, masih banyak lubang dan diduga menggunakan batu diluar standar. Langsung dibantah pihak pelaksana proyek bahwa nanti masih ada dana lanjutan untuk pemeliharaan karena proyek tersebut adalah multiyears dari Pemerintah Provinsi. “Tidak ada masalah, itu proyek tingkat I, nanti masih ada lagi dana pemeliharaan. Siapa yang komentar bermasalah seperti di koran kita minta tanggungjawab,” ungkap Yakob dari pihak pelaksana proyek kepada wartawan melalui via selularnya, Kamis (3/12) siang kemarin.
Ia juga mengaku jalan dan pembangunan drainase juga sudah dikerjakan tidak ada masalah, bahkan saat ini masih proses pengerjaan karena masa kontrak baru habis pada 29 Desember 2009 mendatang. “Jadi disana (lokasi,red) masih ada yang kerja,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Syaiful D anggota DPRD Landak asal Mandor membeberkan, kalau proyek jalan dari Mandor menghubungkan Kecamatan Menjalin tersebut dikerjakan terkesan asal-asalan. “Proyek tersebut multiyears sekitar sudah tiga tahun. kemudian yang antara Mandor-Tiang Aji baru tiga minggu lalu rampung tapi aspal susah banyak lobang, ditambah tidak ada drenase sehingga air menggenangi bodi jalan jika hujan,” ungkapnya.
Lagislator Partai Gerindra ini berharap kepada instansi terkait agar melakukan pengawasan atau mengkontrol terhadap kinerja kontraktor yang pekerjaannya tidak sesuai keinginan masyarakat. Bahkan untuk melapangan kiri-kanan jalan hanya menyemprot menggunakan racun lalang. “Nah kita minta pihak kontraktor pelaksana dan instansi terkait di lingkungan Pemkab Landak bertanggungjawab,” tegas Syaiful.
Ia mengungkapkan, proyek multiyears ini padahal menelan dana cukup besar, seharusnya pihak pelaksana mengerjakan dengan benar. Jangan sampai masyarakat selaku pengguna jalan dirugikan. Karena bisa dibayangkan baru selesai dikerjakan belum satu bulan sudah banyak lobang. “Ini berarti asal-asalan. Lalu yang kita kesalkan mereka ada konsultan teknis yang memang sudah dibayar, apakah memang mereka sengaja ada kongkalikong,” tegas Syaful (rie)

Proyek Jalan Mandor-Tiang Aji Amburadul


*Baru Dikerjakan Sudah Berlobang

NGABANG. Ada-ada saja ulah oknum kontraktor di Landak ini. Maunya untung besar tapi pekerjaan di lapangan amburadul, seperti proyek jalan Mandor-Tiang Aji, baru tiga minggu sudah banyak lobang. Parahnya lagi menggunakan batu kong merah tentunya tak memenuhi standar proyek. “Batu jalan tidak sesuai, karena menggunakan batu kong merah seharusnya batu kemenyan yang keras dan baraunya asal-asalan,”ujar seorang warga Mandor yang namanya enggan disebut ini saat melapor awak koran ini, kemarin.
Menurutnya, masyarakat juga tidak mengetahui berapa jumlah pahu dana proyek yang mencapai miliaran itu. Karena tidak ada plang proyek yang terpampang di sekitar kegiatan. Sehingga masyarakat hanya bisa geleng-geleng kepala setelah melihat jalan yang menelan dana besar baru beberapa minggu, warga sudah menghitung jumlah lobang. “Kita minta kontraktor pelaksana bertanggungjawab,” tegasnya.
Terpisah, Syaiful D anggota DPRD Landak asal Kecamatan Mandor juga membenarkan kalau proyek jalan dari Mandor menghubungkan Kecamatan Menjalin tersebut terkesan asal-asalan. “Proyek tersebut multiyears sekitar sudah tiga tahun. kemudian yang antara Mandor-Tiang Aji baru tuga minggu lalu rampung tapi aspal susah banyak lobang, ditambah tidak aada barau sehingga air menggenangi bodi jalan jika hujan,” ungkapnya kepada wartawan di gedung DPRD Landak, kemarin.
Lagislator Partai Gerindra ini berharap kepada instansi terkait agar melakukan pengawasan atau mengkontrol terhadap kinerja kontraktor yang pekerjaannya tidak sesuai keinginan masyarakat. Bahkan untuk melapangan kiri-kanan jalan hanya menyemprot menggunakan racun lalang. “Nah kita minta pihak kontraktor pelaksana dan instansi terkait di lingkungan Pemkab Landak bertanggungjawab,” tegas Syaiful.
Ia mengungkapkan, proyek multiyears ini padahal menelan dana cukup besar, seharusnya pihak pelaksana mengerjakan dengan benar. Jangan sampai masyarakat selaku pengguna jalan dirugikan. Karena bisa dibayangkan baru selesai dikerjakan belum satu bulan sudah banyak lobang. “Ini berarti asal-asalan. Lalu yang kita kesalkan mereka ada konsultan teknis yang memang sudah dibayar, apakah memang mereka sengaja ada kongkalikong,” tegas Syaful (rie)

Rabu, 25 November 2009

Bupati Landak Tegur PT GRS

NGABANG. PT Gunung Rinjuan Sejahtera (GRS) salah satu perusahaan sawit di Kecamatan Mandor akan ditegur Bupati Landak karena melakukan kegiatan Land Clearing (LC) secara illegal. Perusahaan itu baru mengantongi izin lokasi dan belum ada izin Amdal serta Izin Usaha Perkebunan (IUP) tapi sudah melakukan LC fisik kebun. “Surat peringatan satu No.525/4052/Bunhut/2009 sudah ditandatangai pak Bupati Adrianus AS dan akan kita sampaikan kepada manajemen perusahaan tersebut,” ungkap Plt.Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanana (Bunhut) Landak Vinsensius kepada wartawan di kantornya, Selasa (24/11).
Vinsen menguraikan, dari fakta yang ada, maka disampaikan beberapa peringatan kepada PT GRS yaitu, bahwa didalam pembebasan lahan PT GRS harus sesuai dengan izin lokasi yang diberikan dan dilarang membebaskan lahan diluar dari izin lokasi yang dimaksud. Kemudian, sebelum memiliki Amdal dan IUP, PT GRS dilarang melakukan kegiatan fisik kebun yang merubah rona awal lingkungan atau dilarang LC fisik kebun. Sadangkan untuk melakukan LC fisik kebun PT GRS wajib memiliki rekomendasi dari pemerintah daerah yang sebelumnya dilakukan analisa lapangan tentang luasan lahan yang telah dibebaskan. “Maka dengan ini Bupati Landak memerintahkan kepada PT GRS untuk menghentikan legiatan LC yang dilaksanakan karena dinilai merupakan tindakan illagal, melanggar aturan dan meresahkan masyarakat,” tegas Vinsen.
Vinsen juga menyikapi masalah yang terjadi di Dusun Agak Hulu Desa Bebatung, yang mana di daerah setempat memang titik koordinat dua perusahaan antara PT GRS dan Maiska Bumi Khatulisiwa (MBS). Pada dasarnya masyarakat setempat menerima semua perusahaan dan tidak akan bingung jika kedua perusahaan melakukan sosialisasi sesuai aturan. Jangan sampai asa kepentingan peribadi yang merebutkan potensi lahan yang ada.
“Memang telah terindikasi jika melihat titik koordinat di Dusun Agak Hulu itu, berarti GRS sudah mengelola lahan di luar konsensi. Karena lahan milik PT. MBS,” beber Vinsen.
Untuk itu menyikapi masalah fakta yang ada di lapangan, Bupati mengambil sikap, melakukan teguran terulis dan ini bukan satu-satunya di Agak Hulu tapi di daerah lain juga ada. Karena PT GRS baru izin lokasi yang mestinya tugasnya hanya membebaskan lahan dan tidak boleh melakukan LC terhadap lahan kebun. “Yang boleh LC hanya untuk pembangungan jalan, pembangunan pembibitan dan gedung kantor. PT GRS belum ada izin Amdal dan IUP sementara PT MBS sudah ada izin Amdal,” tegas Vinsen.
Ia menambahkan, diharapkan semua investor yang berinvestasi khususnya di bidang perkebunan harus menjalankan prosedur yang ada. Tahap awal pencadangan lahan sekitar memakan waktu enam bulan, kemudian izin lokasi, izin Amdal dan IUP. “Nah ini aturan yang harus ditempuh oleh perusahaan,” tandas Vinsen. (rie)

Rabu, 18 November 2009

PT GRS Bantah Serobot Lahan PT MBS

MANDOR. Manajeman PT Gunung Rinjuan Sejahtera (GRS) dan masyarakat Dusun Agak Hulu Desa Bebatung Kecamatan Mandor membantah menyerobot lahan milik PT Maiskha Bumi Semesta (MBS) seperti yang ditudingkan oleh salah satu masyarakat bernama Y Inus di koran ini, Jumat (15/11) lalu.
“Kita melakukan klarifikasi, bahwa laporan itu hanya oleh oknum tertentu, jangan mengatas namakan masyarakat, itu hanya untuk kepentingan pribadi,” ungkap Kepala Dusun (Kadus) Agak Hulu Demonikus Edy Satius dalam keterangan persnya, Rabu (18/11) kemarin.
Ia berharap jika ada kepentingan pribadi jangan membawa atas nama masyarakat, karena sebenarnya tidak ada masalah di lapangan, itu dibuktikan warga bekerja lancar dengan perusahaan. Pihaknya tidak memihak kepada perusahaan mana yang mengarap lahan. “ Kami yang penting perusahaan itu benar-benar bekerja untuk mensejahterakan masyarakat dan kepentingan umum. Selama ini tidak ada masalah antara kedua perusahaan antara PT GRS dan PT MBS, kami masyarakat bekerja lancar dengan perusahaan,” ungkapnya.
Senada diutarakan Landok selaku Ketua Kelompok Tani Dusun Agak Hulu, mengingin kepastian dari kedua perusahaan antara PT GRS dan PT MBS, karena selama ini PT GRS yang lebih dulu bekerja di dusun tersebut dan masyarakat sudah meyerahkan lahan. “Maka kami tahu persis keadaan dusun kami dan kami tidak mau diganggu oleh perusahaan lain karena lahan masyarakat sudah diserahkan kepada PT GRS. Oknum masyarakat yang melaporkan hal itu adalah bukan warga Agak Hulu tapi dari desa lain,” tegas Landok.
Sementara itu Manager PT GRS, T. Manurung juga mengklarifikasi tudingan yang dikatakan oleh masyarakat bgernama Y.Inus seperti yang diberitakan koran ini pada 15 November lalu itu adalah tidak benar. Dari pihak PT GRS sampai saat ini tidak ada merasa dirugikan dan merugikan, dalam hal ini Pemkab Landak benar-benar masih mengayomi segala investasi dan investor yang datang ke sini. “Sedangkan di dalam kelompok tani tidak ada nama Y.Inus warga dusun Agak Hulu yang menyerahkan lahannya, dan tidak terdaptar dalam kelompok tani, setahu kami Y.Inus ini bukan warga Agak Hulu. Di antara kedua perusahaan PT GRS dan PT MBS selama ini tidak ada tumpang tindih lahan,” ungkap Manurung.
Manurung menambahkan, sebelum pihak perusahaan mulai berinvestasi di Landak ini sudah bersosialisasi kepada masyarakat di desa Bebatung. Perusahaan sudah jalani baik secara adatnya maupun sosialisasi lainnya yang melibatkan aparat desa tersebut. “Jadi kami atas nama manager PT GRS memohon maaf kepada Pemkab Landak. Kami sangat berterima kasih kepada PemkabLandak yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berinvestasi di daerah ini,” tandas Manurung (rie)

Senin, 16 November 2009

Siswa SMPN 3 Mandor Kerasukan Setan


*Aktivitas Belajar Terganggu

MANDOR. Sejumlah siswa di SMPN 3 Mandor sejak 10 hingga 16 November sering mengalami kerasukan setan atau roh halus. Siswa tiba-tiba mengamuk dan teriak histeris hingga membuat panik se isi gedung sekolah yang terletak di Desa Kayu Tanam itu, aktivitas belajar-mengajar sontak terhenti. “Siswa ngamuk hampir tak dapat di tolong, memberontak sambil teriak histeris. Sekolah tak bisa mengadakan aktivitas belajar,” ujar Fran Aki Kepala SMPN 3 Mandor kepada awak koran ini, Senin (16/11) kemarin.
Akibat kejadian aneh itu, pihak sekolah langsung melaporkan kepada orang tua murid dan kepolisian setempat agar datang memberikan pertolongan. Sejak Selasa (10/11) lalu ada 16 siswa yang kerasukan dan Senin (16/11) kemarin delapan siswa. “Kita juga heran kejadian selalu pada wanita dan terjadi dari satu siswa kemudian masuk ke teman yang lainnya sehingga dari satu siswa menjadi lebih banyak yang kerasukan,” ungkap Fran.
Ia menceritakan, siswa kerasukan suka mengamuk tak mampu dipegang, satu di tangkap yang satu yang lainnya memberonta. Pihaknya sudah sepakati dengan orang tua siswa pada Rabu (10/11) malam lalu sudah mengagelar doa bersama di sekolah, tiga agama bersatu, Islam, Katolik dan Kristen, untuk mengusir roh jahat yang mungkin selama ini mengganggu siswa di sekolah. Tapi hari ini senin 16/11 masih ada siswa yang kerasukan sampai delapan siswa. Adanya permintaan dari orang tua siswa agar sekolah ini harus diadakan acara adat. “Maka kita besok (hari ini,red) akan menggelar acara adat di sekolah, mudah-mudahan dapat mengusir roh jahat agar tidak mengganggu siswa,” harap Fran.
Sementara itu, Pato orang tua siswa menegaskan, selama ini sudah dua kali terjadi kerasukan pada siswa maka sekolah dan orang tua siswa tidak boleh membiarkan hal ini terjadi terus menerus. “Kita harus ambil sikap apa yang harus kita lakukan. Secara agama harus kita laksanakan dan secara adat juga harus kita laksanakan karena kita mempunyai agama dan punya adat. Kalau kita biarkan khawatir nanti bisa membawa korban jiwa pada siswa,” tegas Pato (rie)

Kamis, 12 November 2009

Warga Ancam Hentikan Kerja PT.GRS

*Diduga Serobot Lahan PT MBS

Lahan perkebunan sawit di Landak sering menuai masalah. Kali ini giliran PT. Gunung Rinjuan Sejahtera (GRS) dituding menyerobot lahan milik PT. Maiskha Bumi Semesta (MBS) di Dusun Agak Hulu Desa Bebatung Kecamatan Mandor. “Kami masyarakat Agak Hulu akan memberhentikan kegiatan kerja alat berat yang beroperasi,” ancam Y. Inus seorang warga pemilik lahan saat melapor awak koran ini.
Ia meminta kepada instansi terkait dan kedua belah belah pihak agar segera menyelesaikan masalah ini. jika tidak pihaknya akan melakukan aksi demo besar-besaran. “Kami masyarakat merasa bingung mana yang benar, antara kedua perusahaan tersebut. Kami sangat perlu batas dan ketentuan yang jalas. Jangan sampai kami masyarakat diadu domba sesama masyarakat,” tegas Inus.
Senada diutarakan Morbin, bahwa masyarakat sementara ini akan melakukan penahanan terhadap alat berat agar jangan bekerja sebelum masalah itu di selesaikan. Pihaknya meminta kedua perusahaan harus sama-sama di pertemukan untuk membahas masalah itu. “Agar kami masyarakat tidak bingung menyerahkan lahannya,” ujarnya.
Menurut Mordin, masyarakat Agak Hulu tidak keberatan menyerahkan lahan untuk perkebunan sawit, asalkan mereka tahu jelas dengan perusahaan mana yang harus ia serahkannya. Karena selama ini ada dua perusahaan yang saling mengkapling bahwa wilayah dusun Agak Hulu adalah wilayah perusahaan mereka. “Jadi kami masyarakat sekali lagi merasa bingung yang mana yang benar,” kata Morbin.
Sebelumnya, Wakil Ketua Sementara DPRD Landak Klemen Apui juga komentar terkait izin lokasi perkebunan yang masih tumpang tindih. Maka ia
meminta kepada Pemkab Landak jangan hanya tebar pesona terhadap para calon investor. Karena jika dilihat sejumlah perusahaan sawit yang ada di Landak ini hanya beberapa persen yang sudah genah. Karena dilapangan banyak adanya plot-plot dan inklap kebun sawit karena banyak masyarakat belum mau menyerahkan lahan, ditambah lagi lahan-lahan masih tumpang tindih antara izin perusahaan A dan B. “Kemudian antara izin lokasi perusahaan pertambangan dengan sawit. Maka harus ada pembenahan atau tata ruang dulu yang harus diatur, kalau mau diberi investor wilayah mana. Bukan datang inevestor baru kasak kasuk mencari lahan,” tegas legislator dari Partai Golkar ini. (rie)

PT MAK Bantah Garap Lahan Pekuburan

*Oknum Warga Akan Dituntut Balik

NGABANG. Manajemen PT.Musthika Abadi Khatulistiwa (MAK) yang dituding menggarap lahan perkuburan di Dusun Abuan Desa Sumsum Kecamatan Mandor melakukan klarifikasi. Karena ada oknum masyarakat bernama Anam Cs telah melaporkan kepada Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat. Padahal pemilik lahan Erwen sendiri mengaku lahannya tidak ada kuburan seperti apa yang dilaporakan oknum masyarakat tersebut. “Lahan saya tersebut tidak ada kuburan, bahkan beberapa tahun silam pernah digarap Perkebunan Karet Remaja (PKR), perkebunan Albasia. Tapi sekarang ditanam sawit kok mengapa ada orang meributkan kalau lahan saya ada kuburan,” ungkap Erwen dalam keterangan persnya di Ngabang, Senin (9/11).
Temenggung Adat Abuan, Maharudin mengaku terkejut ada oknum masyarakat yang membuat laporan kepada DAD Kalbar dan melangkahi aparat daerah setempat mulai dari temenggung, kepala dusun dan DAD Kecamatan Mandor.
“Memang kita ada laporan minta jalan keluar terkait ada penggusuran kuburan. Maka saya bilang jika memang betul dan tidak sengaja dibayar satu siam adat saja senilai Rp.363.500. kemudian dalam waktu satu bulan tidak ada pemilik lahan mengklaim, maka gugur adat tersebut,” ungkap Maharudin.
Ketua DAD Kecamatan Mandor Lamsam juga mengaku terkejut kasus ini sampai di tingkat atas (DAD Provinsi,red), padahal selama ini pihaknya memang ada didatangi segelintir warga yang melakukan koordinasi terkait ini. Tapi sifatnya bukan laporan. Apalagi jika dilihat dari pengakuan pemilik lahan tidak ada kuburan di lahan tersebut. “Nah ini yang kami sesalkan masakah ini mencuat sampai di tingkat atas tanpa melalui pengurus adat yang ada di bawah. Ini sudah melanggar aturan yang ada, tugas kami mencari titik koordinasi,” ungkapnya.
Kepala Dusun Abuan Nursen menambahkan, bahwa masyarakat yang melaporkan di DAD Kalbar dianggap telah melangkahi aparat desa atau kecamatan yang ada. Mestinya jika memang dari Pasirah Adat tidak mampu biasa diserahkan di Temenggung Adat, jika tak mampu lari di tingkat Kecamatan. “Tapi mengapa ini langsung di Provinsi. Sedangkan warga yang melapor bernama Anam adalah warga dari luar yakni Senakin,” tegas Nursen.
Sementara itu Manager Perolehan Lahan PT MAK Asep Komaruhayat menegaskan bahwa pihak manajemen keberatakan atas tuduhan tersebut. “Atas pencemaran nama baik maka akan menuntut balik jika apa yang dituding oleh masyarakat tidak terbukti ini,” tegas Asep.
Manajeman juga sangat keberatan sekali dengan oknum masyarakat yang telah menuduh perusahaan melakukan penggusuran kuburan. Jadi pihak perusahaan akan mencari siapa dibalik semua ini. “Kami berharap kepada aparat terkait agar bisa menyikapi malasah ini, mengapa kami datang untuk membangun daerah Landak ini selalu diganggu oleh oknum-oknum segelintir orang,” tandas Asep. (rie)

Minggu, 08 November 2009

Mandor Akan Dibangun Pabrik Karet

*Buat Sarung Tangan dan Kondom

NGABANG. Sejak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Landak menetapkan Mandor sebagai kawasan industri. Sejumlah investor sudah ada yang siap berinvestasi, salah satunya dari Jepang. Rencana akan membangun pabrik keret untuk produksi bahan jadi seperti sarung tangan dan kondom.
“Pada 2 November kita sudah melakukan pertemuan di Yogyakarta dihadiri Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan), mereka memfasilitasi kita untuk bekerjasama dengan pihak Jepang pemilik pabrik. Investasi kita jenis komoditi karet dimana pabrik akan membeli air getah dengan harga Rp.10 ribu per kilogramnya,” kata Plt. Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanana (Disbunhut) Landak Vinsensius kepada Equator di kantornya, belum lama ini.
Rencana, pabrik akan ditempatkan di kawasan indutrsi yang sudah ditetapkan oleh Pemkab Landak yakni di Kecamatan Mandor. Pabrik tersebut akan mengolah dari bahan baku air getah untuk dijadikan barang jadi diantaranya sarung tangan dan sarana alat kesehatan seperti kondom dan lainnya. “Hasil penelitian dari Batan, Landak khususnya di daerah Mandor sangat tepat dan cocok kadar air getahnya,”ujar Vinsen.
Menurut dia, di Kabpaten Landak ini memiliki 80 ribu haktare pengembangan karet baik lokal maupun unggul binaan dari pemerintah. Khusus di Mandor yang sebagai tempat penampungan sudah tersedia satu hamparan yang luanya 260 hektare. “Kita memang harus memenuhi kebutuhan pabrik. Karena setiap hari pabrik membutuhkan 2 ton. Nah anggap saja dalam 1 hektare 1 kilogram, otomatis sudah terpenuhi. Ini sudah sudah kita lakukan penelitian yang singkat,” ungkap Vinsen.
Ketika pertemuan di Yogyakarta, Bupati Landak DR Drs Adrianus Asia Sidot Msi diberikan kesempatan untuk memaparkan dan ia menyambut baik atas kehadiran investor dari Jepang yang akan berinvestasi di bidang komoditi karet dengan memproduksi bahan jadi. “Munkin mimpi yang selama ini mudah-midahan menjadi kenyataaan dan ini pastinya untuk percepatan pembangunan,” kata Vinsen.
Ia menambahkan, saat ini sedang membentuk tim kerjasama dan masih pembahasan-pembahasan karena sebelum kersajama atau MoU semua harus jelas. “Soal lahan sudah ada, dan memang ini bisa cepat diterima karena pabriknya kecil dan bisa bergerak atau mobile,” tukas Vinsen. (rie)

Jumat, 06 November 2009

PT. MAK Diduga Garap Lahan Pekuburan

Menurut keterangan dari salah satu ahli waris Anam mengatakan penggusuran tanah perkuburan oleh PT. MAK itu berlangsung kurang lebih 3 bulan lalu. Sedangkan luas lahan yang digarap yakni seluas lebih kurang 50 meter persegi. ”Tanah kuburan yang digarap itu berumur 60 sampai 70 tahun. Dilahan perkuburan itu ada 10 buah kuburan yang merupakan kuburan nenek kakek kami yang bermukim diantara Desa Sumsum dan Desa Pongok,” ujar Anam yang kala itu didampingi beberapa ahli waris lainnya.

Melihat tanah perkuburan digarap oleh PT. MAK, masyarakat setempatpun menghadap pihak perusahaan. Namun kedatangan masyarakat tersebut ditanggapi dingin oleh perusahaan. ”Akhirnya kamipun menyampaikan hal ini kepada Tumenggung Desa Sumsum. Hasilnya, menurut kami tidak sesuai dengan denda atau sanksi adat yang dilanggar. Pada waktu itu Tumenggung Sumsum hanya memberi denda adat sebesar Rp. 362.650 kepada ahli waris dari 10 kuburan itu. Jelas kami tidak terima dengan denda tersebut,” katanya. Ia menambahkan, untuk menentukan denda adat, dewan adat setempat mengambil keputusan sepihak, tanpa bermusyawarah dengan ahli waris.

Karena permasalahan ini terus berlarut-larut, akhirnya para ahli waris meminta bantuan dan petunjuk kepada Dewan Adat Dayak (DAD) Kanayatn Kalbar. Masyarakat meminta supaya DAD bisa menegakan keadilan dan kebenaran sesuai dengan adat istiadat Dayak Kanayatn.

”Kamipun sudah membuat surat permohonan kepada DAD Kalbar. Surat itupun sudah kami tembuskan kepada Gubernur Kalbar, Kapolda Kalbar, Kajati Kalbar, Bupati Landak, Kapolres Landak, Camat Mandor, Kapolsek Mandor dan tokoh adat di Ngabang,” terangnya.

Ia berharap kepada DAD Kanayatn Kalbar bisa merespon surat yang sudah dikirim tersebut. ”Kami tidak menerima perlakuan sewenang-wenang dari perusahaan yang hadir ditempat kami. Pihak perusahaan merusak tatanan sosial yang sudah berjalan turun temurun dari leluhur kami,” katanya.

Secara terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Landak Vinsensius mengaku tidak mengetahui adanya penggarapan lahan perkuburan oleh PT. MAK. ”Saya belum tahu kalau PT. MAK telah menggarap lahan perkuburan milik masyarakat Desa Sumsum. Terimakasilah sudah memberitahukan ke kami,” kata Vinsen yang ditemui Kamis (5/11) di kantornya.

Hanya saja ia menjelaskan sesuai dengan arahan dalam Peraturan Daerah (Perda) telah diatur bahwa kawasan perkuburan, pantak, daerah keramat, aliran sungai dan gunung yang menjadi sumber mata air merupakan daerah inklap. ”Jadi hal itu wajib diikuti oleh pihak perusahaan. Jika ini ditabrak, kita mungkin akan memakai pola penyelesaian yang biasa kita lakukan yakni melakukan verifikasi lahan terlebih dahulu, mengapa lahan yang dilarang itu digarap juga,” jelasnya. (sumber: Borneo Tribun)

Selasa, 27 Oktober 2009

Menelusuri Jejak-Jejak Emas di Mandor

Oleh: Yohanes Supriadi

Sejarah adalah guru, dengan mengetahui sejarah, kita dapat berbuat sesuatu untuk masa depan. Dari catatan sejarah yang berserakan, ternyata penambangan emas, yang kini dikenal dengan nama PETI sudah sangat lama dikenal masyarakat Kalbar, bahkan ada sebagian kelompok masyarakat yang menjadikannya pekerjaan pokok. Pertengahan Mei dan awal Juni 2009, terusik razia PETI oleh aparat keamanan, sekelompok penambang melakukan aksi demonstrasi hingga aksi anarkis di kantor aparat keamanan di Mandor, Kabupaten Landak. Bagaimana jejak-jejak emas tersebut ? apa pelajaran penting yang dapat kita ambil ? bagaimana menyelesaikan persoalan ini dengan “win-win solution” ? Berikut laporannya.
*******

Mandor hanyalah kota kecil, tepatnya pasar yang terdiri dari deretan ratusan ruko (rumah toko) berbentuk segi empat. Jaraknya hanya 88 Km dari Kota Pontianak. Jalannya sangat lebar dan licin dengan status jalan internasional. Maklum, menuju Kuching-Sarawak, dari Pontianak, orang akan melewati Kota Mandor. Sebelumnya, Mandor luput dari perhatian public. Mandor dikenal dunia sejak abad ke-17. Saat itu, masa kejayaan sebuah republik tertua dunia, yang dikenal dengan Republik Lan Fang. Republik yang menggunakan nama presiden pertamanya ini di bentuk oleh orang orang Hakka dari Kwangtung pada akhir abad ke-18 dan berlangsung selama 107 tahun.
Kedatangan kaum Cina di Mandor ditengarai atas undangan Sultan Mempawah, dengan membawa 10 orang pekerja tambang emas dari Brunei Darusalam. 10 orang ini dipekerjakan oleh Sultan untuk menambang emas di Mandor, yang kala itu dibawah kekuasaan Sultan. Atas keberhasilan tambang, pada tahun 1745, orang Cina didatangkan lagi secara besar-besaran. Sultan Mempawah menggunakan tenaga-tenaga orang Cina ini sebagai wajib rodi, dan dipekerjakan di tambang-tambang emas kerajaan. Di Kalbar, tenaga kerja Cina ini terpusat di Monterado, Bodok dan Mandor. Disebutkan, pada permulaan tahun 1740, jumlah orang Cina ini hanya beberapa puluh saja disana, namun karena perkawinan mereka dengan penduduk Dayak sekitar pertambangan, tahun 1770 orang Cina di Mandor sudah mencapai 20.000 orang. Jumlah mereka bertambah besar lagi dengan kedatangan pasukan Khubilai Khan di bawah pimpinan Ike Meso, Shih Pi dan Khau Sing dalam perjalanannya untuk menghukum Kertanegara, singgah di kepulauan Karimata yang terletak berhadapan dengan Kerajaan Tanjungpura hingga akhirnya menetap di Mandor.
Orang Cina di Mandor, dibawa oleh Lo Fong Pak dengan membawa sekitar 100 orang. Lo Fong Pak merupakan guru di kampung Shak Shan Po, Kunyichu, Propinsi Kanton. Mendengar banyak emas di kepulauan Borneo, ia kemudian berlayar. Lo Fong Pak sempat menetap selama 7 bulan di Pontianak, tepatnya di Siantan (Parit Pekong sekarang). Dari Siantan, Lo Fong mendengar sebuah “gunung emas” yang kini dikenal sebagai Gunung Samabue. Dengan perahu kecil, Lo Fong menyusuri sebuah sungai, yang kini dikenal sebagai sungai Dayak (anak sungai Segedong di Peniti). Saat itu, Mandor, telah dihuni oleh suku Tio Ciu, terutama dari Tioyo dan Kityo. Daerah Mimbong (Benuang) didiami pekerja dari Kun-tsu dan Tai-pu. Seorang bernama Liu Kon Siong yang tinggal dengan lebih dari lima ratus keluarganya mengangkat dirinya sebagai Tai-Ko di sana. Di San King (Air Mati) (Tengah-tengah Pegunungan) berdiam pekerja dari daerah Thai-Phu dan berada di bawah kekuasaan Tong A Tsoi sebagai Tai-Ko. Tiba di Mandor, Lo Fong menemukan pasar 220 pintu yang dimiliki oleh Mao Yien. Pasar 220 pintu ini terdiri dari 200 pintu pasar lama yang didiami masyarakat Tio Tjiu, Kti-Yo, Hai Fung dan Liuk Fung dengan Tai-Ko Ung Kui Peh dan 20 pintu pasar baru yang didiami masyarakat asal Kia Yin Tju dengan Tai-Ko Kong Mew Pak. Mao Yien juga mendirikan benteng Lan Fo (Anggrek Persatuan) dan mengangkat 4 pembantu dengan gelar Lo-Man.
Mengetahui potensi besar untuk merubah hidup kelompoknya, Lo Fong mendirikan kongsi yang dikenal sebagai Lo Fong Kongsi. Lo Fong berniat melakukan penyerangan terhadap kongsi-kongsi yang ada. Namun, cara diplomasi dikedepankan Lo Fong. Suatu hari, Lo Fong mengutus Liu Thoi Ni untuk membawa surat rahasia kepada Ung Kui Peh dan Kong Mew Pak. Kedua kelompok ini terpaksa menyerah dan menggabungkan diri di bawah kekuasaan Lo Fong Kongsi tanpa pertumpahan darah. Takluknya berbagai kongsi oleh Lan Fong Kongsi, Lo Fong Pak kemudian mendirikan sebuah pemerintahan dengan menggunakan nama kongsinya, sehingga nama kongsinya menjadi nama republik, Republik Lan Fong, yang jika dihitung sejak tahun berdirinya, 1777, berarti sepuluh tahun lebih awal dari pembentukan negara Amerika Serikat (USA) oleh George Washington tahun 1787.
Ketika Republik didirikan, warga kongsi ingin Lo Fong Pak menjadi Sultan (mengikuti sistem kesultanan Sambas dan Mempawah), namun ia menolak dan memilih kepemerintahan seperti sistem kepresidenan. Lo Fong Pak terpilih melalui pemilihan umum untuk menjabat sebagai presiden pertama, dan diberi gelar dalam bahasa Mandarin Tang Chung Chang atau Presiden. Ibukota Republik ini adalah Tung Ban Lut (Mandor). Menurut konstitusi negara ini, baik Presiden maupun Wakil Presiden harus merupakan orang Hakka yang berasal dari daerah Ka Yin Chiu atau Thai Pu. Benderanya berbentuk persegi empat berwarna kuning, dengan tulisan dalam bahasa Mandarin Lan Fang Ta Tong Chi. Benderanya berwarna kuning berbentuk segitiga dengan tulisan huao (Jenderal). Para pejabat tingginya memakai pakaian tradisional bergaya China, sementara pejabat yang lebih rendah memakai pakaian gaya barat. Pada masa pemerintahannya, Lo Fang Pak telah menjalankan system perpajakan, dan mempunyai kitab undang undang hukum, menyelenggarakan system pertanian dan pertambangan yang terarah, membangun jaringan transportasi, dan mengusahakan ketahan ekonomi berdikari lengkap dengan perbankannya. Sistem pendidikan tetap diperhatikan bahkan semakin dikembangkan.
Republik Lan Fang mencapai keberhasilan besar dalam ekonomi dan stabilitas politik selama 19 tahun pemerintahan Lo Fong Pak. Dalam tarikh negara samudera dari Dinasti Qing tercatat adanya sebuah tempat dimana orang Ka Yin (dari daerah Mei Hsien) bekerja sebagai penambang, membangun jalan, mendirikan negaranya sendiri, setiap tahun kapalnya mendarat di daerah Zhou dan Chao Zhou (Teo Chiu) untuk berdagang. Sementara dalam catatan sejarah Lan Fong Kongsi sendiri terungkap bahwa setiap tahun mereka membayar upeti kepada Dinasti Qing seperti Annan (Vietnam). Di negara baru yang dikelilingi rumah-rumah panjang orang Dayak ini, Lo Fong kemudian membangun rumah untuk rakyat, majelis umum (Thong) serta pasar. Lo Fang Pak berusaha menyatukan semua orang golongan Hakka di daerah yang dinamakan San Shin Cing Fu (danau gunung berhati emas). Presiden Lan Fong merebut paksa kekuasaan Tai-Ko Liu Kon Siong di daerah Min Bong (Benuang) sampai ke San King (Air Mati). Sejak abad 18, Lo Fong kemudian menguasai seluruh wilayah pertambangan emas Liu Kon Siong dan pertambangan perak Pangeran Sita dari Ngabang. Presiden Lo Fang Pak wafat pada tahun 1795, dimakamkan di Sak Dja Mandor.
Berikut ini nama-nama Presiden Republik Lan Fang di Mandor:
No Nama Presiden Masa Jabatan Peristiwa penting
1 Lo Fong Pak 1777-1795 Pendiri dan Presiden pertama
2 Kong Meu Pak 1795-1799 Republik melakukan peperangan dengan Kerajaan Mempawah
3 Jak Si Pak 1799-1803 Republik melakukan peperangan denga Orang Dayak di Lamoanak
4 Kong Meu Pak 1803-1811 Tidak ada keterangan
5 Sung Chiap Pak 1811-1823 Ekspansi tambang emas di Ngabang
6 Liu Thoi Nyi 1823-1837 Belanda masuk dan mulai berpengaruh di Mandor
7 Ku Lik Pak 1837-1842 Konflik dengan Panembahan Suta di Landak dan mulai berkurang hasil emas
8 Chia Kui Fong 1842-1843 Meninggal karena pemberontakan ketua-ketua Kongsi
9 Yap Thin Fui 1843-1845 Meninggal karena pemberontakan ketua-ketua Kongsi
10 Liu Kon Sin 1845-1848 Republik melakukan lagi peperangan dengan orang Dayak di Binuang, Sangking, dll
11 Liu A Sin 1848-1876 Ekspansi lagi ke kawasan Landak (Ngabang)
12 Liu Liong Kon 1876-1880 Meninggal karena pemberontakan ketua kongsi di San King
13 Liu A Sin 1880-1884 Republik di bubarkan oleh Belanda

Pada masa Presiden Liu Tai Er (Hakka: Liu Thoi Nyi), Belanda mulai aktif melakukan ekspansi di Indonesia dan menduduki wilayah tenggara Kalimantan. Liu Tai Er terbujuk oleh Belanda di Batavia (kini Jakarta) untuk menandatangani suatu pakta non-agresi timbal-balik. Penandatanganan pakta tersebut praktis berarti menyerahkan rezim Lan Fong ke dalam kekuasaan Belanda. Belanda berhasil menduduki Republik Lan Fang, walaupun kongsi tersebut terus mengadakan perlawanan selama 4 tahun, tetapi akhirnya dikalahkan, menyusul kematian Liu Asheng (Hakka: Liu A Sin), presidennya yang terakhir. Selain itu, munculnya pemberontakan penduduk Dayak semakin melemahkan pemerintahan Lan Fong. Di Lamoanak, seratusan Dayak menyerang pusat pemerintahan Lo Fong Pak di Mandor. Bersama warga lainnya dari Tiang Aji, Bangkawe, Saringkuyakng, dll, mereka secara membabi buta melakukan perlawanan. Perlawanan Dayak mereda setelah Republik Lan Fong meminta bantuan Belanda, dan memaksa kelompok Dayak ini melarikan diri hingga ke Sungai Ambawang dan mendirikan perkampungan disana, hingga hari ini.
Pasca perlawanan kaum Dayak ini, secara perlahan, Republik Lan Fang juga kehilangan otonomi dan menjadi sebuah daerah protektorat Belanda pada tahun 1885 dan membuka perwakilannya di Mandor. Namun, sungguhpun demikian, Belanda tidak otomatis menguasai seluruh kekayaan republik, karena takut akan reaksi keras dari pemerintahan Ching di Tiongkok. Belandak tidak pernah menyatakan secara terbuka mengumumkan telah menguasai Republik Lan Fang, dan tetap membiarkan salah satu dari keturunan Lan Fang menjadi pemimpin di negara ini. Baru setelah terbentuknya Republik of China (Cung Hwa Ming Kuok) pada tahun 1911, pada tahun 1912 Belanda secara resmi menyatakan menguasai daerah itu (Republik Lan Fang).
Tak disangka, keturunan republik terus melakukan konsolidasi. Pada tahun 1914, bertepatan dengan Perang Dunia I, keturunan republik ini melakukan pemberontakan bersenjata, yang dikenal dengan Peran Sam Tiam (tiga mata, tiga kode, tiga cara) di Mandor Mempawah, Anjungan, Sei Pinyuh, Purun, Toho, Sanking, Binuang, dan Lamoanak. Mereka juga dibantu oleh masyarakat Melayu dan Dayak yang dipaksa untuk ikut. Pemberontakan ini baru berakhir tahun 1916 dengan kemenangan di pihak Belanda. Mengenang prajuritnya yang gugur selama peperangan ini, Belanda mendirikan tugu peringatan di Mandor.
Seiring dengan dikuasainya Republik Lan Fang oleh Belanda, orang-orang dari republik ini kemudian melarikan diri ke Sumatra. Orang orang Lan Fang yang lari ke Sumatra bergabung lagi di Medan. Dari sana mereka menyebar ke Kuala Lumpur dan Singapura. Menurut catatan Rahman (2000:123), melalui Keputusannya 4 Januari 1857, Belanda memasukkan kembali distrik Cina di Mandor ke dalam wilayah Kesultanan Pontianak. Alasan formal dari penyerahan itu adalah sebagai imbalan atas “kebijaksanaan” Sultan Usman yang “tidak berpihak” atas kasus kekacauan kongsi cina di Mandor pada 1850.
Motivasi penyerahan itu sebenarnya lebih disebabkan oleh kesulitan Pemerintah Kolonialisme Belanda menghadapi perlawanan anggota sub kelompok etnis Dayak, anggota komunitas dan kongsi Cina terhadap Belanda yang sewenang-wenang menanam kuku kolonialismenya dan memonopoli dalam pengeksploitasian pertambangan emas di Mandor. Salah seorang dari keturunan langsung Republik Lan Fang di Mandor ini, adalah Lee Kuan Yew, yang pernah menjadi Perdana Menteri Singapura. Ditangan Lee Kuan Yew, kelompok Hakka yang minoritas di Singapura, menjadi pemegang peranan penting dalam mendirikan Republik Lan Fang yang kedua di Singapura modern, hingga hari ini.(sumber: Tabloid Simpado, edisi I/Juni-Labuh Singal/2009)

Senin, 26 Oktober 2009

Mobil Box Berguling Masuk Sawah


*Supir Mimpi Giginya Tanggal

MANDOR. Kecelakaan tunggal menimpa mobil kijang box angkutan rokok KB.9680 CF berguling-guling masuk sawah di Belak Desa Sebadu Kecamatan Mandor, Senin (26/10) pukul 14.00 wib. Tidak ada korban jiwa, mobil yang dikendarai Amir dan Amat tersebut masuk sawah lantaran mengelakan hewan ternak babi yang melintas di jalan, sedangkan dari arah depan ada mibil truk. “Jadi setir saya banting ke kiri langsung terjun di sawah,” ujar Amir supir mobil tersebut ketika minta keterangan di TKp.
Amir mengatakan, angkutan rokok dari Kota Singkawang rencana akan di bawa ke Kota Ngabang. Ia mengendalikan mobil dengan kelajuan 50-60 km, tiba-tiba di jalan Belak yang sedikit tikungan tersebut di depanya ada babi, sementara arah depan ada mobil truk, maka ia mengelak ke kiri. Tapi malah apes dan posisi kendaraan berguling sampai ke sawah. “Mobil bergiling dan kami berdua tidak apa-apa dan langsung keluar dari pintu,” ujar Amir.
Ketika ditanya, apakah ada firasat buruk sebelumnya? Amir yang menggunakan baju kaos warna hijau tersebut mengaku malam harinya mimpi giginya ada yang tanggal. “Ada mimpi tadi malam, gigi saya tanggal,” ujarnya.
Kendaraan yang masih terguling di sawah yang baru ditanami padi milik warga setempat, sontak menjadi tontonan warga. Setiap pengendara sepeda motor yang melintasi jalan tersebut pun berhenti dan melihat dari dekat. Sementara sampai pukul 15.00 kemarin supir masih sibuk menghubungi tokenya dan rekannya untuk minta pertolongan. (rie)

Selasa, 20 Oktober 2009

Puting Beliung Terjang Setabar



*Bangunan Gereja Nyaris Roboh

MANDOR. Angin puting beliung menerjang Dusun Setabar Desa Bebatung Kecamatan Mandor Kabupaten Landak, Senin (19/10) pukul 10.30 Wib kemarin. Tidak ada korban jiwa, namun bangunan gereja Katolik Santo Modestus nyaris roboh atap melayang 500 meter dan sangkut diatas pohon, sementara dua rumah penduduk rusak ringan.
“Hujan dan angin cukup kencang di sertai petir. Kejadian itu kurang lebih setengah jam, angin berawal dari sawah berputar dan langsung naik di wilayah gereja dan menghantam gereja sehingga rusak berat dan atap gereja habis melayang ke hutan,” ungkap saksi mata,Binatus Bius, Pemimpin Umat gereja Katolik kepada awak koran ini.
Selain itu, ada dua buah rumah milik Asim dan Amran rusak atap seng nya melayang dan ditimpa pohon. Musibah ini langsung menjadi tontonan warga, berduyun-duyun untuk melihat dari dekat kerusakan gereja dan rumah warga. “Bersyukur tidak ada korban jiwa,” ujarnya.
Beberapa jam kemudian, setelah mendapat laporan dari warga, Camat Mandor Marius Baneng SE dan jajarannya langsung meninjau ke lokasi Gereja yang rusak. “Saya mendapat laporan dari warga, terjadinya angin sangat kencang di perkirakan pukul 10.35, sehingga gereja katolik rusak berat dan perlengkapan dalam gereja banyak yang rusak. Saya menghimbau kepada masyarakat kalau sedang di sawah agar berhati-hati jika ada angin kencang. Karena selama ini banyak bencana di luar negeri,” ungkapnya.
Menurut dia, memang di Indonesia ini diprediksi BMG terjadi angin dan hujan disertai petir, tapi tepat nya tidak tahu dimana bisa terjadi. Langkah selanjutnya dia berharap untuk mengatasi kerusakan ini, aparat desa dan kepala desa (kades), membuat laporan kerusakan kepada kecamatan tentang kerusakan yang terjadi. “Tentunya karena ini bencana alam kita lanjutkan kepada instansi yang menangani yaitu Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Landak. Biasanya ada pos-pos untuk penanganan bencana alam dan mudah-mudahan kerusakan gereja ini mendapat bantuan dari dinas terkait,” harap Marius.
Sementara itu, Kota Ngabang Kabupaten Landak pukul 12.30 wib juga turun hujan deras sekitar satu jam. Sedangkan jajaran Pemkab Landak hingga sore kemarin belum ada meninjau lokasi angin puting beliung di Setabar yang mengakibatkan bangunan rusak. Wakil Bupati Agustus Sukiman SH dikonfirmasi melalui ajudannya, rencana besok (hari ini,red) baru akan meninjau lokasi musibah. “Besok ke sana, sore ini masih ada rapat, tq,” bunyi SMS dari ajudan Wakil Bupati yang dikirim kepada wartawan Equator Landak. (rie)

Senin, 12 Oktober 2009

Turnamen Bupati Landak Cup Ditutup

*Tim Banyuke A Rebut Juara I

MANDOR. Turnamen Sepak Bola Bupati Cup ke V di Kecamatan Mandor Kabupaten Landak resmi ditutup Bupati DR Drs Adrianus Asia Sidot MSi, Sabtu (10/10) dari 13 kecematan yang mengikuti ajang bergensi itu. Empat peraih juara yakni Juara I tim Banyuke A, Juara II tim Sengah Temila B, Juara III tim Mempawah Hulu dan Juara IV tim Mandor A dan ditambah Club terbaik tim Mempawah Hulu, Topscoor Rapin dari tim Sebangki mencetak 14 gool. pemain terbaik Ahui dari tim Mandor A. Sedangkan jumlah hadiah, juara I uang pembinaan Rp 15.juta, di tambah piala bergilir. juara II Rp 10.juta, di tambah medali, juara III Rp 7.5 juta, ditambah medali,dan juara IV, Rp 5juta, sedangkan untuk topscoor kita berikan uang pembinaan Rp 3 juta, pemain terbaik Rp 2 juta, dan club terbaik Rp 1.5 juta
“Saya mengucapkan terima kasih kepada panitia yang sudah bekerja keras untuk melaksanakan kegiatan ini, karena pertandingan sudah berjalan lancar tidak ada masalah. Ke empat tim yang mendapat juara ini adalah tim terbaik di kabupaten Landak,” ungkap Adrianus.
Ia berharap kepada pengurus Persatuan Sepak Bola Landak (Persilan) agar turnamen ini tetap dilanjutkan setiap tahun. Selain Bupati Cup dan mengadakan turnamen yang lebih besar lagi, nanti pesertanya bukan hanya tim dari kecamatan di kabupaten Landak tapi mengundang tim dari kecamatan kabupaten lain dan hadiahnya juga lebih besar. “Sedangkan untuk acara penutupan ini saya tidak mengadakan hiburan Band karena khawatir hal-hal yang tidak di inginkan. Tapi saya berjanji akan memberi masyarakat kecamatan Mandor hiburan Band dalam waktu dekat ini,” urai Adrianus.
Ketua II Panitia Bupati Cup, R.Saidin juga mengucapkan permohonan maaf kepada masyarakat kecamatan Mandor, karena pihaknya sudah umumkan pada saat penyerahan hadiah akan dihibur artis dari ibu kota atau pesta rakyat, ternyata tidak ada. “Saya juga heran padahal ini turnamen besar Bupati Cup gawainya Kabupaten, kami di kecamatan hanya pelaksana saja,” tandasnya.(rie)

Rabu, 07 Oktober 2009

Proyek Pagar Makam Juang ’Siluman’

PROYEK pagar taman Makam Juang Mandor yang saat ini sedang dikerjakan dinilai masyarakat proyek siluman. Karena tidak ada plang proyek dan tidak ada lapor dengan aparat desa atau kecamatan. ”Selama ini Pemerintah Desa (Pemdes) Mandor sudah menertibkan administrasi desa, tapi masih banyak tamu yang bandel datang di Desa Mandor tak mau lapor dengan Ketua Rukun Tetangga (RT) atau Kepala Desa,” ungkap Kepala Dusun Mandor, Aloysius Jama’an, kepada awak koran ini di kantornya, Senin (5/10)
Ia mengatakan, banyak tamu tak lapor seperti orang-orang proyek yang mengerjakan pagar di lokasi taman Makam Juang Mandor. ”Entah berapa orang yang kerja dan mengibap di lokasi tersebut pihaknya tidak tahu karena mereka tak ada lapor,” ungkapnya.
Camat Mandor Marius Baneng SE juga mengaku memang banyak proyek yang bekerja di wilayah Kecamatan Mandor, tapi banyak tidak melapor dengan pihak kecamatan. Banyak yang datang mulai kerja sampai dia pulang juga tak ada lapor, jadi kita tidak tahu proyek siapa dan dari mana yang mengerjakan kita tidak tahu,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan proyek yang dekat dengan kantor camat yakni pengerjaan pagar taman makam juang sama sekali tidak melapor. Menurut kabar, proyek tersebut dari provinsi Kalbar, pastinya pihaknya tidak tahu karena tidak ada plang proyeknya. ”Kami menghimbau kepada seluruh kepada desa agar memantau kegiatan proyek di desanya masing-masing,” himbaunya. (rie)

Pelayanan Puskesmas Mandor Tak Memuaskan

*Manajemen Harus Dibenahi

NGABANG. Pelayanan Puskesmas Mandor dianggap tidak memuaskan masyarakat. Bayangkan pasien korban kecelakaan lalu lintas sempat terlantar sekitar satu jam, akibatnya nyawanya tidak tertolong dan sempat dilarikan di Rumah Sakit Mempawah dan Pontianak. “Ponakan saya dan rekannya kecelakaan di Dusun Sumber Maju Desa Kerohok 22 September lalu tepat hari lebaran ke tiga. Satu meinggal ditempat dan satu dilarikan di Puskesmas Mandor, cuman satu jam menunggu di teras baru masuk ruang rawat,” beber Syaiful D seorang warga Kecamatan Mandor ketika melapor kepada Equator di Ngabang, Senin (5/10) kemarin.
Parahnya lagi, saat itu hampir dua jam ruang di Puskesmas tidak ada penerangan alias gelap gulita. Sementara ponakan dia masih terkapar, karena tidak ogsigen maka hanya di infus untuk di rujuk di Rumah Sakit Mempawah dan meninggal ketika di Rumah Sakit Antonius Pontianak. “Memang meninggal sudah kehendak Tuhan, tapi kalau saya melihat juga akibat kurangnya pertolongan pertama ketika di Puskesmas selama satu jam belum ada petugas yang merawat,” ungkap Syaiful yang juga anggota DPRD Landak periode 2009-2014 ini.
Menurut dia, karena sarana dan prasarana yang ada di Puskemas kurang memadahi, akibatnya petugas juga melayani pasien dengan apa adanya. Peristiwa ini bukan hanya cukup sekali, melainkan memang sudah sering, bahkan saat kasus korban penusukan yang terjadi di lokasi pasar malam beberapa hari lalu. Korban saat dibawa di rumah sakit di Pontianak, mendapat oksigen di Puskesmas sungai Pinyuh. “Mengapa di Puskesmas Mandor tidak dilengkapi, kita minta kepada Dinas Kesehatan Landak bisa membenahi Puskesmas Mandor baik dari segi manajemen dan pelayanan kepada masyarakat,” tegas legislator Partai Gerindra ini.
Ia juga berharap, kepada Pemkab Landak melalui Dinas Kesehatan bisa memperhatikan pelayanan-pelayanan di Puskesmas yang ada di Landak, salah satunya di Kecamatan Mandor. “Khususnya dalam melayani pasien yang sudah sangat darurat, mereka harus cepat jangan dibiarkan,” tegas Syaiful legislator asal Kecamatan Mandor ini. (rie)

Senin, 05 Oktober 2009

Perkelahian, Pasar Malam Tegang

*Massa Datangi Mapolsek Mandor

MANDOR. Lokasi pasar malam di lapangan sepak bola Mandor Kabupaten, Kamis (1/10) sekitar pukul 02.00 dini hari mendadak tegang. Menyusul terjadi perkelahian hingga satu orang korban N. Neo, 45, mengalami luka tusukan. Pagi harinya massa mendatangi Maposek minta aktivitas pasar malam dihentikan. Insiden belum jelas pemicunya, pelaku penusuk sudah diamankan polisi.
Kapolres Landak AKBP Drs Toni EP Sinambela Msi melalui Kasat Reskrim AKP Hujra Soumena yang didampingi Kanit Reskrim Bripka Dahroni mengatakan, pelaku TT, 38 warga Desa Sebadu Kecamatan Mandor sudah diamankan, sedangkan satu pelaku lagi atas nama Ir warga Desa Pakumbang masih diburu.
Motif dari perkelahian belum begitu jelas. TT masih diperiksa intensif di Polres Landak. Sehingga belum bisa menetapkan pelaku sebagai tersangka. Kasus inipun masih ditangani Polsek Mandor.
TT yang merupakan panitia dari pasar malam ketika diperiksa polisi mengatakan saat itu ia melihat Ir yang kelihatan resek di lokasi pasar malam. Merasa panitia dari pasar malam tersebut, iapun lantas hendak menegur Ir. “Tiba-tiba datang Neo yang masih satu kampung dengan Ir yang kemungkinan hendak membela Ir. Mungkin karena TT sudah sakit hati dengan Ir, akhirnya pelaku langsung mengambil obeng di jok motornya dan hendak menghujamnya ke tubuh Ir,” ungkapnya.
Korban Neo langsung membawa ke Mapolsek Mandor dan selanjutnya berobat ke rumah sakit. Saat inipun korban masih dirawat intensif di RSUD Soedarso. Sedangkan pelaku langsung diamankan. “Namun Ir masih dalam pengejaran polisi,” terangnya.
Ia meminta kepada masyarakat supaya tidak main hakim sendiri dalam menyikapi kasus tersebut. Apalagi satu pelaku sudah diamankan polisi. “Percayakan penyelesaian kasus ini kepada kami. Untuk saat inipun situasi dan kondisi Kamtibmas di Mandor sudah aman terkendali. Apalagi satu peleton Dalmas Polres Landak dan ditambah lagi anggota dari Polsek Sengah Temila dan Polsek Mandor sendiri diterjunkan untuk mengamankan lokasi kejadian,”himbau dia.
*Warga Minta Pasar Malam Ditutup
Ratusan warga Pak Kumbang Kecamatan Sompak mendatang Mapolsek Mandor, Kamis ( 1/10 ) pukul 10 pagi kemarin. Mereka datang menggunakan satu buah mobil truk tertutup dan puluhan lain nya menggunakan sepeda motor. Mereka langsung di sambut Muspika setempat dan di adakan dialog di ruang Bina Mitra Polsek Mandor.
Kami datang minta kegiatan pasar malam yang diadakan sejak 14 Agustus lalu harus ditutup. Akibat pasar malam sehingga terjadi perkelahian menggunakan senjata tajam dan menyebabkan (Neo) warga kami masuk rumah sakit. Kami datang untuk menyelesaikan masalah agar pelakunya diproses secara hukum dan panitia pasar malam juga harus bertanggung jawab atas kejadian pada malam Kamis sekitar pukul 02.00 subuh kata Tondo warga desa Pak Kumbang
Camat Mandor Marius Baneng SE menjelaskan kegiatan pasar malam sudah bukan tanggung jawab panitia Bupati Cup, sesuai dengan izin kegiatan turnamen Bupati Cup itu hanya di beri batas waktu dari pukul 13.00 sampai 17.30 sore. sedangkan untuk kegiatan pasar malam kami Muspika sangat setuju kalau di tutup. Karena akan merusak generasi muda terutama anak sekolah dan perempuan yang selalu jadi korban.
Sementara IPDA Alexander Aban Kapolsek Mandor mengatakan kami sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan kades bagaimana mengatasi kegiatan pasar malam itu, tapi dengan kejadian ini kami akan memproses siapa pelaku dan semua panitia akan kami proses sesuai dengan aturan, untuk sementara pelaku penusukan sudah langsung kami kirim di Polres Landak dan yang sakit juga sudah di rujuk ke rumah sakit Pontianak kata Aban.
Terpisah, Bupati Landak DR Drs Adrianus Asia Sidot MSi diminta komentar terkait insiden ini mengatakan, dirinya sudah menegaskan pada saat pembukaan Sepak Bola Bupati Cup ke V di Mandor, kegiatan Bupati Cup hanya sebatas pagar lapangan bola dan sampai pukul 17.30 sore, jadi diluar pagar itu bukan kegiatan Bupati Cup. “Jadi memang kegiatannya dari pukul 14.00 siang, kegiatan berlangsung didalam lapangangan dibatasi oleh pagar. Itu sudah saya tegaskan dengan lantang, dengan nyaring, dengan keras saat pembukaan Bupati Cup. Jadi kalau ada perkelahian yang berujung akibat kegiatan diluar Bupati Cup bukan tanggungjawab saya,” ungkapnya seraya mengatakan tanggung jawab masing-masing karena rakyat seperti itu oknum-oknum (rie)

Rabu, 09 September 2009

Wabup Bantah Dana Haornas Dari Judi

*Upacara Dipusatkan di Mandor

MANDOR. Upacara Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-26 dipusatkan di Kecamatan Mandor, Rabu (9/9) kemarin dipimpin Wakil Bupati Agustinus Sukiman SH di lapangan sepak bola Mandor berlangsung khidmat. Sukiman dalam amanatnya menegaskan kegiatan ini pendanaan bersumber dari APBD Landak bukan dari tanggokan judi seperti yang dituding dari oknum masyarakat.
“Mengenai dana pelaksanaan Haornas sudah dianggarkan dari dana APBD bukan dari tong judi. Selama ini banyak SMS dari masyarakat yang masuk kepada Sekda Landak melaporkan bahwa kegiatan Haornas dan turnamen sepak bola Bupati Cup dipungut dari tong judi,” tegas Sukiman.
Ia mengatakan, Haornas ditetapkan dengan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 67 tahun 1985 pada hakekatnya merupakan bentuk komitmen seluruh anak bangsa untuk menempatkan olahraga sebagai salah satu program prioritas dalam pembangunan Nasional. Tahun ini mengangkat tema ‘Budayakan Olahraga untuk melanjutkan peningkatan prestasi dan kesejahteraan’. “Nah dengan budaya olaraga yang tinggi di harapkan secara langsung dapat meningkatkan prestasi olahraga. Budaya olahraga yang tinggi merupakan pondasi utama terwujudnya prestasi olahraga yang gemilang. Budaya olahraga yang tinggi merupakan pemicu dan pemacu bagi tumbuh kembangkan pembangunan di sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat melalui jasa dan industry olahraga,” urai Sukiman.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Drs Lukas Kanoh MM dalam laporannya, Haornas yang di peringati setiap 9 September. Khusus tahun ini waktu yang istimewa yaitu jatuh pada tanggal 9 bulan 9 tahun 2009 jam 9.00 wib kegiatan ini digelar. Haornas juga merupakan kebulatan tekad bangsa Indonesia untuk menjadikan olahraga sebagai bagian aktivitas terpenting yang harus di lakukan dan di budayakan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan tujuan peringatan Haornas ke 26, tahun 2009 adalah meningkatkan komitmen dan konsisten penyelenggara Negara, pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dalam pembudayaan olahraga di Indonesia.
“Mengoptimalkan peran olahraga dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan kebugaran masyarakat serta memupuk persatuan dan kesatuan bangsa, menumbuhkembangakan jasa dan industry olahraga untuk memperkuatkan ekonomi kerakyatan,” katanya.
Kemudian, memanfaatkan gerakan nasional, mamasyarakatan olahraga dan menggolahragakan masyarakat, mengoptimalkan prestasi olahraga nasional (Daerah). Untuk mencapai tujuan tersebut maka pada peringatan Haornas ke-26, tahun 2009, di kabupaten Landak, dilakukan beberapa kegiatan yang menitik beratkan pada pemasalahan olahraga. “ Tanpa mengabaikan pengembangan olahraga berprestasi, melaui pemasalan olahraga diharapkan semua lapisan masyarakat Landak menggenal olahraga sejak dini, mencintainya hingga menjadi budaya serta keperluan atau bagian hidup kita,” tukas Lukas yang juga Sekretaris KONI Landak ini. (rie)

Polemik PT MAK dan PT GRS

Perusahaan Diminta Duduk Satu Meja

NGABANG. Polemik antara PT Musthika Abadi Khatulistiwa (MAK) dan PT Gunung Rinjuan Sejahtera (GRS) yang berlokasi di Desa Pongok Kecamatan Mandor terkait permasalahan lahan, akhirnya difasilitasi Polres Landak untuk dipertemukan kedua belah pihak. Acara pertemuan di Mapolres, Selasa (8/9) kemarin dipimpin Kapolres AKBP Drs Tony Ep Sinambela MSi dan hadir Plt. Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Landak Vinsensius S.Sos MMA dan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Landak DD Pangaribuan.
Plt. Kepala Disbunhut Vinsensius mengatakan, ada idealisme dalam pengembangan perkebunan yang harus dilakukan di Kabupaten Landak ini diantaranya hadirnya investasi untuk kemakmuran rakyat, bisa membuka lapangan kerja masyarakat, meningkatkan perekonomian masyarakat. Nah sedangkan pemerintah memang harus mengamankan investasi yang ada. “Jadi, kedua perusahaan ini yakni PT MAK dan GRS hadir di Landak secara legal dan riil jelas ada,” ujar Vinsen.
Namun, dilapangan adanya masalah antara kedua belah pihak, soal jalan. Pihak PT MAK tidak menginginkan jalan yang dibukanya di pakai PT GRS untuk memasukan alat berat. “Memang dalam undang-undang jalan, harus terbuka untuk umum siapa saja bisa menggunakan, tapi kalau memang ada hitungan bisnis, bisa dikomunikasika kedua belah pihak. Artinya kedua perusahaan bisa duduk satu meja,” ujar Vinsen.
Kemudian masalah izin lokasi, memang hasil verifikasi tim dari Pemkab Landak tahap kedua ini memang PT GRS overlap dengan PT MAK mencapai 2350 hektare. Tapi ini akan dilanjutkan proses verifikasi tahap ketiga untuk revisi izin lokasi diserahkan kepada Bupati Landak. “Nah dalam waktu dekat, akan dipanggil kedua belah pihak manajeman perusahaan tersebut,” ujarnya. (rie)

Rabu, 02 September 2009

Dirudu Kijang, Rumah Warga Liansipi Nyaris Roboh

MANDOR. Rumah Nuraini, 29, warga Dusun Lian Sipi Desa Mandor nyaris roboh dirudu kijang yang dikendarai, Buyung Guru, 58, warga Desa Beringin Kecamatan Kapuas, Sanggau, Rabu (2/9) pukul 10.00 pagi kemarin.
Kapospol Lantas Polsek Mandor,Briptu Guntur Pratama mengatakan, pihaknya mendapat laporan dari masyarakat langsung meluncur tempat kejadian pekara (TKP), rupanya ada mobil kijang KB 1019 SL, yang dikendarai Buyung Guru menabrak rumah warga yang tidak jauh dari jalan raya. “Mobil masuk ke dalam rumah kedua ban depan pecah dan rumah nyaris roboh, untung tidak ada korban jiwa,” kata Guntur.
Buyung Guru sopir kijang mengaku dirinya dari Sanggau mau pergi ke sungai Pinyuh, tidak tahu kecepatan berapa, tiba-tiba stir mobil tidak mau di belok langsung melompat ke arah kanan masuk kedalam rumah, dan menabrak teras rumah. “Setelah turun dari mobil melihat kedua ban depan mobil pecah dan teras rumah roboh berantakan,” tuturnya.
Sementara pemilik rumah Nuraini mengatakan dirinya melihat langsung kejadian itu, ia dan anaknya sedang belanja di warung tak jauh dari rumah, dan melihat mobil kijang dari arah Ngabang melaju dan melompat langsung masuk menabrak rumahnya. “Suami saya Joko G tidak ada di rumah bekerja. Saya langsung teriak minta tolong dan masuk ke dalam rumah melihat rumah hancur berantakan, lemari, motor pecah lampu depan dan kursi yang baru di beli untuk persiapan lebaran juga hancur,” kata Nuraini sambil menangis. Sedangkan pemilik kijang masih diamankan Polisi. (rie)

Pembuat SIM Palsu, Warga Kayu Tanam Ditangkap

KAYU TANAM- Seorang pembuat Surat Izin Mengemudi (SIM) palsu, IK,23, warga Desa Kayu Tanam Kecamatan Mandor ditangkap Polres Landak, Selasa (1/9) pukul 17.00 dikediamaannya berikut barang bukti (BB) juga diamankan yakni satu unit komputer (CPU, monitor, keyboard), scaner, printer, kertas foto dan SIM yang asli dan palsu juga berhasil diamankan.
“Dia kita ciduk di kediamannya, adanya SIM palsu ini terkuak ketika jajaran lalu lintas Polres Kabupaten Pontianak melakukan razia sekitar Juli lalu menemukan pengendara atas nama Lx dengan SIM palsu amka dibuat laporan kemudian dilimpahkan di Polres Landak,” ungkap Kapolres Landak melalui Kasat Reskrim AKP Hujra Soumena SIk di kantornya, Rabu (2/9).
Polisi terus memburu dua tersangka lainnya yakni Lx selaku pemilik SIM dan Ag selalu penghubung kepada Ik dalam proses pembuatan SIM dengan cara scaner tersebut. “Jadi kita pemeriksaan tersangka mulai Ik, karena dia sebagai pembuat SIM, kemudian baru yang lainnya,” kata Hujra.
Tiga tersangka ini dijerat KUHP, untuk tersangka Ik pasal 263 ayat (1) tentang pembuatan surat palsu, Lx dijerat pasal 263 ayat (2) karena menggunakan surat palsu dan tersangka Ag, pasal 263 jo 55 atau 56 karena ikut membantu dalam pembuatan surat palsu. “Jadi dua orang yang belum kita tangkap, masih diburu,” ujar Hujra.
Sementara itu, tersangka Ik, kepada wartawan mengaku dirinya hanya menolong Ag yang disuruh Lx untuk merubah SIM A (asli) menjadi SIM B1. Pembuatannya dengan cara di scaner dengan mengganti foto, tulisan A ke B1 dan tulisan Ngabang dirubah Mempawah. “Alasan dia mau dipakai untuk kerja, karena mau membuat lama prosesnya dan mahal,” ujar Ik tamatan SMEA yang mengaku baru satu kali ini membuat SIM palsu yakni ada November 2008 lalu. (rie)

Haornas Dipusatkan di Kecamatan Mandor

MANDOR. Memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) Pemkab Landak pada 9 September mendatang dipusatkan di Kecamatan Mandor. Moment ini akan dirangkai dengan berlangsungnya turnamen sepak bola Bupati Cup yang juga Mandor menjadi tuan rumah tahun ini.
“Kegiatan Haornas ini sudah kita mulai 4 September, sebagian di laksanakan di kabupaten, sedangkan untuk puncak kegiatan pada 9 September itu di Mandor yakni diadakan gerak jalan santai, melibatkan pihak sekolah dan masyarakat kecamatan Mandor,” ujar C.H.Dahor, Kabid Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Landak saat meninjau lapangan sepak bola Mandor, Rabu (2/9) kemarin.
Ia mengharapkan pihak sekolah untuk berpartisipasi dan masyarakat ikut melaksanakan momemtum Haornas itu sendiri,karena dimana Haornas itu akan membentuk jiwa yang sehat dan tubuh yang sehat, kemudian pada gerak jalan santai itu. “Kita akan bagikan dorprize atau undian berhadiah,” katanya.
Camat Mandor Marius Baneng SE mengharapkan, masyarakat kecamatan Mandor supaya ikut pro aktip mengikuti momemtum Haornas ini, melalui badan yang sehat terdapat jiwa sehat, melalui jiwa yang sehat artinya pembangunan generasi muda melalui olahraga semangkin mantap, dan mengenai kesiapan panitia menjelang Turnamen Bupati Cup ke-V, lapangan sudah hampir rampung 90 persen. “Tribun hampir selesai, yang belum hanya dua tempat duduk pemain cadangan dan official ditepi lapangan,” ungkapnya.
Ia melihat, memang panitia sudah cukup bekerja keras, dan diharapkan kepada pihak terkait di kabupaten, seperti pengurus kabupaten (pengkab), di bidang sepak bola agar mohon mendukung dan material tentang pendanaan jangan sampai tersendat. “Supaya persiapan ini dapat sukses, berjalan baik dan lancar,”harap Marius.(rie)

Rabu, 26 Agustus 2009

PT. MAK Klarifikasi Pernyataan Kades Pongok

MANDOR. Aksi unjuk rasa Kepala Desa Pongok Kecamatan Mandor Herkulanus dan 30 lebih warga di kantor Disbunhut Landak, Kamis (20/8) lalu dengan pernyataan menolak kehadiran PT Musthika Abadi Khatulistiwa (MAK) masuk di daerah setempat, langsung diklarifikasi oleh pihak perusahaan, karena tidak benar masyarakat menolak. Itu dibuktikan dengan sudah dibukanya 4000 hektare lahan dari izin lokasi dari Pemkab Landak 18 ribu hektare. “Semua komponen masyarakat tetap mengikuti program perusahaan yang sudah betul-betul membuka kebun. Ini dibuktikan kita sudah membuka dan menanam 4000 haktare,” ungkap Asep Komaruhayat perwakilan dari PT MAK didampingi Cristiawan Hepidianto dalam keterangan persnya di Ngabang, Senin (24/8).
Ia menjelaskan, bahwa secara legal formal Desa Pongok merupakan salah satu desa yang termasuk dalam areal izin lokasi dari PT MAK, sehingga sah secaraa hukum untuk membangun perkebunan kepala sawit di desa tersebut. “Kita dalam memperoleh lahan dari masyarakat Desa Pongok untuk dijadikan perkebunan sawit tidak melakukan tindakan upaya yang merugikan masyarakat, terlebih lagi upaya paksa atau penyerobotan lahan milik masyarakat maupun adu domba,”ungkap Asep.
Kemudian, PT MAK dalam memperoleh lahan dari masyarakat Desa Pongok telah sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku yakni, melakukan sosialisasi program perkebunan sawit yang dihadiri oleh Muspika Mandor yakni Camat, Polsek dan Danramil, ditambah lagi kepala desa, kepala dusun, Parirah, Temenggung dan tokoh masyarakat lainnya. “Penyerahan lagan oleh masyarakat ke perusahaan melalui Ganti Rugi Tanaman Tumbuh (GRTT) terhadap lahan masyarakat yang dilengkapi dengan tandatangan dokumen kemitraan penyerahan pengelohan lahan ke perusahaan,” terang Asep.
Asep mengungkapkan, PT MAK sampai saat ini telah melakukan sosialisasi program kemitraan kepala sawit sebanyak empat kali di Desa Pongok dan selalu dihadiri aparat daerah dalam kegiatan tersebut, sehingga tidak benar kalau PT MAK tidak menghargai aparat desa (kepala desa,red) dalam kegiatan sosialisasi dan kegiatan perkebunan lainnya. “Karena ada kesibukan lain dari kepada desa Pongok, maka beliau sering tidak dapat hadir,” ujar Asep.
Selanjutnya, untuk memperkuat penjelasaan ini, maka tim dari Disbunhut yang terdiri dari Aswanto, Margono dan M.Syukur melakukan pengecekan dilapangan, Jumat (21/8) lalu adapun yang hadir tokoh masyarakat Desa Pongok diantaranya dari TPK Dusun Bantek, Junaidi, Marwi, Rinto dan Sius. Dari TPK Pongok, Erwin, Irwan, Acui dan Yulius Pahan dan tokoh masyarakat lainnya, Asun, Hembing, Rusli, Muhidin dan Ropinus. Sedangkan perwakilan dari Polsek Mandor, Endro dan perwakilan perusahaan yakni Cristiawan Hepidianto, John Barlet, Asep Komaruhayat, Saibi, Andrianus, Bambang, Sarion, Ipensius dan Suheli. “Sedangkan kepala desa yang sudah membuat pernyataan menolak PT MAK malah tidak ada datang,” ujar Asep.
*Dukungan Masyarakat
Masyarakat Pongok Adrianus mengaku warga di Pongok tidak menolak PT. MAK, karena pihaknya warga asli di sana berjumlah 1000 jiwa lebih, tapi yang datang di Disbunhut hanya 34 orang dan itu tidak memiliki lahan di PT MAK. “Maka kami bingung, kok bisa menolak,” ujarnya.
Ketua TPK Pongok Erwin menilai kepala desa sebagai kepala wilayah harusnya memberikan pelayanan kepada masyarakat bukan malah mengajak masyatakat unjuk rasa di Disbunhut dengan alasan lain, tiba-tiba sampai di sana menyatakan penolakan kehadiran PT MAK. “Jadi kami ketua TPK Pongok yang membawahi masyarakat lain pemilik lahan menyatakan tidak benar warga menolak. Jadi perlu di klarifikasi pernyataan kepala desa di koran bahwa tidak ada warga menolak,” tegas Erwin seraya menambahkan, masyarakat bersyukur adanya PT. MAK jalan yang tadinya tertutup bisa terbuka. Senada diungkapkan Ketua TPK Dusun Bantek Junaidi dan Ketua TPK Angkabang Sakari. Pihaknya sangat mendukung kehadiran PT MAK masuk di daerahnya, karena memberikan peluang usaha pereknomian masyarakat setempat. (rie)

Selasa, 18 Agustus 2009

Warga Benahi Lapangan Sepak Bola Mandor


Jelang Bupati Cup III


MANDOR. Kecamatan Mandor mendapat kehormatan karena tahun ini dipercaya sebagai tuan rumah turnamen bergengsi sepak bola merebuatkan Piala Bupati Cup ke-3, yang direncanakan dihelat 9 September mendatang. Masyarakat dan pemuda se-kecamatan Mandor sangat antusias menyambut dan menjadi tuan rumah turnamen Bupati Cup. “Ini di buktikan sehari setelah di tunjuk menjadi tuan rumah, masyarakat dan pemuda langsung membenahi lapangan sepak bola,” kata Tarsisius ketua panitia pembenahan lapangan saat rapat kerja panitia Selasa ( 18/8).
Tarsisius mengatakan masyarakat sudah hampir setiap sore membenahi lapangan sepak bola, rumputnya sudah di tebas menggunakan mesin sebagian daerah yang tinggi akan digusur, yang paling penting membuat tribun untuk panitia dan di tepi lapangan akan di pagar, supaya pemain dan penonton bisa tertib. “Kita berharap masyarakat dan pemuda benar-benar membenahi lapangan karena ini turnamen yang sangat bergensi di kabupaten Landak, dan seluruh kecamatan akan menampilkan pemain terbaiknya untuk bertanding, dan lapangan kita harus standar,” tukasnya. (rie)

Rabu, 12 Agustus 2009

Jalan RT 02 Kayuara Akan Dirabat Beton


*Rencana Dianggarkan dalam ADD

KAYUARA. Jajaran Pemerintahan Desa Kayuara Kecamatan Mandor patut diacungi jempol. Karena Alokasi Dana Desa (ADD) digunakan untuk kepentingan masyarakat bersama, rencananya untuk tahun 2010 mendatang akan mulai dialokasikan pembangunan jalan rabat beton antara Simpang Pongok tembus Kayuara Dalam persisnya di Rukun Tetangga (RT) 02. “Kita sudah melakukan rapat dengan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat desa lainnya dan para RT, tahun depan ADD akan kita alokasikan untuk bangun jalan rabat beton, jalan tembus Kayuara Dalam,” kata Kepala Desa Kayuara, Suhardi kepada Equator, belum lama ini.
Menurut Suhardi, sambim menunggu ADD tahun depan terealisasi dari Pemkab Landak, pihaknya sudah mengintuksikan masyarakat di RT 02 untuk kerja bhakti atau gotong royong setiap hari Jumat sore membersihkan atau melebarkan jalan yang akan di bangun rabat beton tersebut. “Kita dari jajaran pemerintahan desa dan anggota BPD, warga RT 02 sudah kerja bhakti setiap Jumat sore,” ujar Suhardi.
Ia juga mengharapkan, warga Kayuara Dalam juga harus ikut kerja bhakti dari membersikan jalan. Karena rencana pembangunan rabat beton dimulai dari RT 02 tembus Kayuara Dalam. Sehingga harus saling membantu. Karena panjang jalan antara RT 02 sampai Kayuara Dalam sekitar 1,200 KM. “Jadi rencana akan dianggarkan secara bertahap setiap tahunnya. Untuk tahap pertama kita bangun di RT 02 terlebih dahulu,” terang Suhardi.
Terpisah, Jayus, mantan Ketua RT 02 juga mengaku, warga setiap Jumat sore kerja bhakti mulai membersikan jalan sekitar lebar satu meter lebih. Karena akan dibangun rabat beton dengan menggunakan ADD Kayuara. “Kata kepala desa kita, memang mau disemen jalan ini,” ujar Jayus ditemui Equator di kediamannya, belum lama ini.
Menurut Jayus, memang layak jalan tersebut di bangun rabat beton, karena merupakan jalir jalan pintas antar desa, yakni Desa Pongok dan Kayuara bahkan sampai Desa Sulutung. Sehingga diharapkan, Pemkab Landak juga bisa memperhatikan jaran tersebut. Artinya, dari ADD Kayuara memang sudah dialokasikan untuk jalan tersebut, tapi lebih baik lagi dibantu dari dana ABPD Landak. “Kita harapkan para wakil rakyat atau anggota dewan asal Kecamatan Mandor bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat di sini,” tandas Jayus. (rie)

Selasa, 04 Agustus 2009

Zalbifri Pimpin BKPRMI Landak


NGABANG. Malalui Musda II Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Landak yang digelar, Senin (3/8) kemarin di aula Kantor Departeman Agama (Depag) Landak. Zalbifri secara demokratis terpilih sebagai Ketua BKPRMI Landak periode 2009-2012. Sebelumnya dipimpin H Rohadi Fauzi,S.Ag sejak 2001-2003 dan sempat vakum selama satu periode. Proses pemilihan dengan sistem voting dari 13 peserta, terdiri dari 10 perwakilan dari kecamatan dan tiga orang utusan pengurus demisioner. Dari penjaringan bakal calon muncul lima orang yakni M. Zulkarnain, Hasan Basri, H.Effendi, Zalbifri dan Adiansyah. Tapi dua balon H.Effendi dan Ardiansyah mengundurkan diri, sehingga tinggal tiga kandidat. Peraih suara terbanyak Zalbifri mengantingi 12 suara, sedangkan Hasan Basri dan M. Zulkarnain masing-masing satu suara.
Ketua terpilih, Zalbifri dalam sambutanya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikannya untuk meneruskan organisasi BKPRMI ini. Ia berharap kepada semua pihak khususnya umat Islam atas kersamanya untuk menjalankan organisasi ini. “Karena tujuannya adalah untuk wadah kepentingan umat, maka kita perlu bersama-sama untuk saling berkomunikasi, mampu menyalurkan aspirasi umat kita,” ungkap Feri panggilan akrabnya ini.
Feri pria asal Mandor yang juga Caleg dari PDIP terpilih ini, mengaku akan menjalankan roda organisasi yang diamanahkannya yang sudah pasti harus mendapat dukungan dan kersama dari semua umat Muslim. “Karenan memang BKPRMI merupakan organisasi dengan tujuan untuk kepentingan umat,” tandas Feri.
Sementara itu, Ketua BKPRMI yang lama, H. Rohadi Fauzi, S.Ag dalam sambutanya mengatakan, Musda yang digelar sangat sederhana tersebut adalah menjadi momentum membangun BKPRMI sebagai organisasi yang kuat dan bermartabat, baik dimata remaja dan pemuda masjid khususnya, maupun seluruh masyarakat Kabupaten Landak. “Ingat BKPRMI adalah wadah bagi aktifitas masjid, selalu aktif dan berkarya selama hayat dikandung badan,” ungkap Rohadi yang juga Sekretaris KAHMI Landak ini.
Ia juga mengucapkan permohonan maaf jika dalam kepengurusan dirinya tidak dapat berbuat banyak dan ia yakin bahwa kepengurusan yang baru akan membuat terobosan yang berarti bagi remaja dan pemuda masjid dan umat Islam di Kabupaten Landak ini,” tandas Rohadi. (rie)

Minggu, 12 Juli 2009

Kepsek SMPN 1 Mandor Ditipu, Rp.129 Juta Lesap

MANDOR. Para pejabat dan masyarakat Kabupaten Landak dihimbau agar berhati-hati terhadap penipuan berkedok minta transfer uang dengan mengatasnamakan pejabat lain. Baru-baru ini dua pejabat menjadi korban. Dia adalah Kepala SMPN I Mandor dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas) Landak.
Kapolres Landak AKBP Drs Tony Ep Sinambela Msi melalui Kasat Reskrim AKP Hujra Soemena Sik menerangkan, Kepala SMPN 1 Mandor bernama Vinsesius Sufyan berawal mendapat telpon dari nomor handpon 081242266488 yang mengatasnamakan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar. Modusnya si penelpon tersebut memberikan kabar kalau SMPN 1 Mandor tahun ini mendapat bantuan proyek rehabilisasi gedung sekolah dengan anggaran mencapai Rp.500 juta. Tapi, kata si penelpon tersebut, untuk mencairkan dana, pihak sekolah harus mentransfer uang sebagai administrasi berjumlah Rp. 129 juta. “Jadi Kepsek tersebut langsung mentrasfer uang di rekening BRI dan Bank Mandiri di Jakarta sampai delapan kali, terakhir tanggal 10 Juli kemarin,” ungkap Hujra.
Kemudian, lanjut Hujra, kepsek tersebut terus menghubungi si penelpon agar dia bertemu dengannya. Tapi dibalasnya selalu sibuk kegiatan dengan Gubernur Kalbar. Ujung-ujungnya nomor hanpohon sudah tidak aktif. “Barulah dilaporkan di Polsek Mandor,” ujar Hujra.
Hal sama juga dialami Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Landak Drs. Edward Ramukdin juga ditipu hingga uang Rp.15 juta melayang. Adapun modusnya, si penelpon mengatasnamakan Kapolres Landak AKBP Drs Tony Ep Sinambela Msi dengan meminta pinjaman uang sebasar Rp.15 juta dan akan dikembalikan. Diketahui kalau itu penipuan setelah pihak bendahara instansi tersebut menagih di Polres dan ternyata nama Kapolres dicatut. “Ada bendaharanya datang di Mapolres sini, katanya mau menagih. Terkejut Kapolres mana ada pinjam uang,” ujar Hujra.
Untuk itu, Hujra menghumbau kepada para pejabat dan masyarakat dengan maraknya penipuan via telepon dan mencatut nama seseorang belakangan ini agar selalu hati-hati dan jangan mudah percaya. Jika memang ada yang meminta sejumlah uang atau barang lain dengan mengatasnama orang lain agar di lakukan konfirmasi kebenarannya. “Jangan main transfer, karena belum tentu itu benar seperti kasus yang dialamai Kepsek SMPN 1 Mandor,” tegas Hujra. (rie)

Tertarik Angrek Bulan Albino Sejak Pandangan Pertama

*Mengoleksi Tanaman Anggrek; dari Hobi m menjadi Mata Pencaharian

Pedalaman hutan Mandor, Landak tersimpan pesona si cantik ini. Phalaenopsis Alba (Alphino) atau angrek bulan albino, keindahan sangat eksotik sehingga benar-benar menggoda. Tak heran jika keberadaannya selalu menjadi incaran.

SEPINTAS bentuk fisik dari bunga hutan ini terlihat biasa saja. Namun, segalanya menjadi lain tatkala bunganya mekar. Tak seperti angrek bulan kebanyakan, angrek bulan albino ini memiliki ciri keunikan yang tersediri. Seluruh kelopak bunganya berwarna putih terang. Angrek bulan albino terbilang spasial karena ia lahir dari perkawinan silang alami dari beberapa jenis angrek lain di hutan. Proses persilangannya tentu bisa berlangsung sangat lama. Selain bentuk fisiknya yang beda, angrek bulan albino ini juga memiliki sejumlah keistimewaan. Salah satunya adalah memiliki kekuatan tiga kali lebih kuat dari angrek sejenis dalam menahan serangan penyakit.
Angrek langka ini ditemukan Suranto S.PKP, pemilik Agro Dwi Mandiri yang berkedudukan di Mandor. Keikutsertaannya dalam Borneo Orchid Show (BOS) dalam memeriahkan HUT Emas Untan Pontianak ini tidak lain untuk memperkenalkan keanekaragamanan hayati, khususnya angrek hutan, yang ada dibelantara Mandor, Landak.
Angrek bulan albino ditemukan secara tidak sengaja saat Suranto sedang mencari varietas angrek alam di hutan Mandor. Tanpa sengaja, tida-tiba dirinya melihat ada tumbuhan angrek yang hidup menyendiri di sebuah batang pohon tua. Karena penasaran, tanaman yang menarik hatinya itu pun dipanjat. “Saat pertama kali melihatnya, saya langsung jatuh hati. Angrek ini benar-benar membawa hoki bagi saya,” ungkapnya ramah.
Karena terbilang istimewa, oleh Sutanto angrek bulan albino tersebut ditempatkan dalam tempat yang lebih spesial. Soal perawatan, dirinya mengaku tidak memberi perlakukan khusus. Meskipun demikian, tetap memantau perkembangan angrek kesayangannya setiap hari. Selain menampilkan angrek bulan albino, pada kesempatan BOS Untan ini Suranto juga memamerkan koleksi angrek kesayangannya yang lain.
Dua tanaman andalannya adalah Kantong Semar (Nephentis Bicalcarata) dan San Sangk. Kantong semar hanya dapat dijumpai di daerah yang beriklim tropis, seperti hutan di pedalaman Kalimantan. Ia tumbuh di tempat yang beriklim mikro yang lembab. Semakin tua usianya, maka warna kantongnya akan berubah menjadi kemerahan. Yang unik lagi, duri yang ada dimulut kantongnya juga semakin besar dan tajam. “Kantong Semar jenis ini pernah dibeli oleh turis Jepang untuk kemudian dibawa pulang ke negeri mataheri terbit,” terangnya.
Tanaman yang tak kalah istimewa adalah San Sangk. Keunikan tanaman ini terletak dari kandungan zat yang ada di daunya. Zat tersebut dapat mengubah rasa pahit menjadi manis. Penggunaan daun San Sangk telah lama dimanfaatkan masyarakat pedalaman dalam masakan daun ubi kayu. Dengan mencampurkan beberapa lembar daun San Sangk maka rasa pahit yang ada pada daun ubi kayu dapat hilang. (sumber: Pontianak Post)

Sabtu, 11 Juli 2009

Di Mandor Mega-Pro Menang Telak

Pasangan Capres Megawati-Prabowo (Mega-Pro) unggul sementara di lima kecamatan di Kabuten Landak. Sementara posisi kedua pasangan Soesilo Bambang Yodhoyono-Boediono (SBY-Boediono) dan posisi tiga pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win). Dari data yang berhasil dikumpulkan Equator dari masing-masing Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) hingga pukul 19.00 wib tadi malam tercatat, Kecamatan Air Besar dari 4 desa Mega-Pro 1.955 suara, SBY-Boediono 676 suara dan JK-Win 92 suara. Kecamatan Kuala Behe dari 17 TPS Mega-Pro 2.532 suara, SBY-Boediono 1.385 suara dan JK-Win 115 suara. Kecamatan Menyuke dari 14 desa, Mega-Pro mengantongi 11.348 suara, SBY-Boediono 3.260 suara dan JK-Win 319 suara. Kecamatan Mandor sudah dikatakan final yakni dari 17 desa, Mega-Pro 11.461 suara, SBY-Boediono 3.808 suara dan JK-Win 498 suara. Sementara di PPK Ngabang hingga pukul 19.00 tadi malam baru akan dilakukan rekapitulasi perhitungan suara.
Pantauan Equator dilapangan, pelaksanaan Pilpres di Kabupaten Landak terlihat di sejumlah TPS tidak terlalu banyak antrean panjang seperti saat Pemilu Legislatif (Pileg) lalu yang sejak pagi warga sudah berbondong-bondong mendatangi TPS. Tapi, kemarin sejak TPS dibuka pukul 08.00, petugas KPPS masih terlihat menunggu pemilih. Seperti di TPS 128 di parkiran hotel Dangau Landak, dari pantauan Equator, petugas KPPS lebih banyak duduk santai, karena warga yang datang hanya satu per satu.
Sementara Bupati DR Adrianus As menyatakan, bukan tidak ada gairah warga untuk mendatangi TPS, tapi memang Pilpres dengan Pileg sangat beda. Sehingga karena saat ini lebih gampang, maka pemilih tidak terlihat menumpuk di ruang tunggu dan hanya htungan menit saja sudah selesai mencontreng. “Saya kira bukan sepi tak ada antusias warga. Karena kalau pada pemilu legislatif itu surat suara besar dan empat lembar, kalau sekarang hanya satu sekali buka langsung bisa di contreng, saya saja hanya satu menit,” ujar Adrianus kepada wartawan usai meninjau,

Jumat, 10 Juli 2009

Sejarah Kedatangan Orang-orang Cina di Kalbar

Sejarah Kongsi

Kongsi adalah perkumpulan pertambangan Cina di wilayah barat Pulau Borneo / Kalimantan. Pertambangan-pertambangan yang dikerjakan oleh orang-orang Cina ini adalah tambang-tambang emas yang tersebar di pesisir utara Wilayah Kalimantan sebelah barat ini. Sebagian besar tambang-tambang emas itu berada di wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas. Orang-orang Cina yang mengerjakan tambang-tambang emas itu pertama kali datang ke wilayah Kalimantan Barat ini adalah pada tahun 1740 M yang didatangkan oleh Raja Panembahan Mempawah yaitu Opu Daeng Menambon. Kemudian pada sekitar tahun 1750 M Sultan Sambas ke-4 yaitu Sultan Abubakar Kamaluddin juga mendatangkan orang-orang Cina untuk pertama kali wilayah Kesultanan Sambas untuk mengerjakan tambang-tambang emas di wilayah Kesultanan Sambas yaitu di daerah Montraduk, Seminis dan Lara. Dalam hal ini status orang-orang Cina ini adalah pekerja-pekerja tambang yang bekerja pada Sultan Sambas. Sebagian hasil tambang itu disisihkan untuk upah para pekerja tambang emas itu dan sebagian lagi adalah merupakan penghasilan bagi Kesultanan Sambas sebagai pemilik negeri.
Seiring dengan semakin berkembangnya kegiatan pertambangan emas di wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas, pada sekitar tahun 1764 M terjadi gelombang besar-besaran orang-orang Cina yang didatangkan oleh Sultan Sambas ke-5 yaitu Sultan Umar Aqamaddin II ke wilayah Kesultanan Sambas menyusul begitu banyaknya ditemukan tambang-tambang emas baru di wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas ini.
Pada sekitar tahun 1767 M jumlah orang-orang Cina yang mengerjakan tambang-tambang emas di wilayah barat Pulau Kalimantan ini khususnya di wilayah Kesultanan Sambas sudah mencapai hingga belasan ribu orang.
Karena jumlah orang-orang Cina yang semakin besar ini dan mereka berkelompok-kelompok berdasarkan wilayah pertambangan masing-masing, maka pada sekitar tahun 1768 M, kelompok-kelompok ini kemudian mendirikan semacam perkumpulan usaha tambang masing-masing yang disebut dengan nama Kongsi. Kongsi-kongsi ini (yang saat itu berjumlah sekitar 8 Kongsi) menyatakan tunduk kepada Sultan Sambas namun Kongsi-kongsi itu diberi keleluasaan secara terbatas oleh Sultan Sambas untuk mengatur Kongsinya sendiri seperti pengangkatan pemimpin Kongsi dan pengaturan kegiatan pertambangan masing-masing. Sedangkan mengenai hasil tambang emas, disepakati bahwa Kongsi-kongsi berkewajiban secara rutin menyisihkan sebagian hasil tambang emas mereka untuk diserahkan kepada Sultan Sambas bagi penghasilan Sultan Sambas sebagai pemilik Negeri. Pada saat itu Sultan Sambas menerima bagi hasil dari Kongsi-Kongsi Cina itu sebanyak 1 kg emas murni setiap bulannya, belum termasuk penerimaan oleh Pangeran-Pangeran penting di Kesultanan Sambas dari Kongsi-kongsi itu.
Pada tahun 1770 M mulai timbul semacam pembangkangan dari kongsi-kongsi Cina yang ada di wilayah Kesultanan Sambas ini terhadap Sultan Sambas. Pembakangan ini berupa penolakan mereka untuk memberikan sebagian hasil tambang emas kepada Sultan Sambas yaitu sebesar 1 kg emas murni setiap bulannya. Para kongsi itu hanya bersedia memberikan bagi hasil tambang emas sebesar setengah kg atau separuh dari kesepakatan sebelumnya padahal saat itu kegiatan pertambangan emas di wilayah Kesultanan Sambas ini semakin berkembang.
Hal ini kemudian membuat Sultan Sambas marah apalagi kemudian terjadi pembunuhan oleh orang-orang Cina Kongsi terhadap petugas-petugas pengawas Kesultanan Sambas (yang adalah orang-orang Dayak) yang ditugaskan oleh Sultan Sambas untuk mengawasi kegiatan tambang emas Kongsi itu, sehingga kemudian Sultan Sambas saat itu yaitu Sultan Umar Aqamaddin II mengirimkan pasukan Kesultanan Sambas menuju daerah kongsi-kongsi yang melakukan makar dan pembakangan itu. Setelah gerakan pasukan Kesultanan Sambas telah berlangsung selama sekitar 8 hari dan belum sempat terjadi pertempuran besar antara pasukan Kesultanan Sambas dengan pihak kongsi, kemudian pihak kongsi itu ketakutan hingga kemudian mengakui kesalahannya dan bersedia untuk tetap membayar bagi hasil tambang emas kepada Sultan Sambas sesuai dengan kesepakatan sebelumnya yaitu sebesar 1 kg emas setiap bulannya.
Semakin lama jumlah Kongsi yang ada semakin bertambah dan pada sekitar tahun 1770 M, telah ada sekitar 10 Kongsi di wilayah Kesultanan Sambas dan saat itu terdapat 2 Kongsi yang terbesar yaitu Kongsi Thai Kong dan Kongsi Lan Fong.
Pada tahun 1774 M terjadi pertempuran antara kedua buah kongsi terbesar di wilayah Kesultanan Sambas yaitu Kongsi Thai Kong dan Kongsi Lan Fong. Kongsi Thai Kong kemudian berhasil mengalahkan Kongsi Lan Fong sehingga Kongsi Lan Fong bubar.
Kedatangan Lo Fang Pak
Lo Fang Pak mulai bertualang pada usia 34 tahun. Dia merantau ke Kalimantan Barat saat ramainya orang mencari emas (Gold Rush), dengan menyusuri Han Jiang menuju Shantao, sepanjang pesisir Vietnam, dan akhirnya berlabuh di Kalbar (Wilayah Kesultanan Sambas) pada usia sekitar 41 tahun yaitu pada sekitar tahun 1774 M.
Kedatangan orang-orang Cina dari daratan Cina ini adalah atas permintaan sultan-sultan Melayu saat itu yang mendatangkan para pekerja tambang emas dari daratan Cina yaitu untuk melakukan kerja-kerja tambang yang memang keahlian dan kesulitan pekerjaan tambang saat itu hanya dapat dilakukan dengan ketekunan dari orang-orang Cina. Permintaan pekerja tambang dari Cina daratan saat itu merupakan satu trend yang berkembang di kerajaan-kerajaan Melayu, yang dimulai oleh kerajaan Melayu yang ada di Semenanjung Melayu kemudian kerajaan Melayu di pesisir utara dan timur Sumatra lalu Kerajaan Melayu Brunei (yaitu pada masa Sultan Omar Ali Saifuddin I) baru kemudian disusul oleh Kerajaan-Kerajaan Melayu yang berada di pesisir wilayah Pulau Kalimantan bagian barat.
Kerajaan Melayu di pesisir barat Pulau Kalimantan yang pertama mendatangkan pekerja tambang dari daratan Cina adalah Panembahan Mempawah yang waktu Rajanya adalah Opu Daeng Menambon yaitu pada sekitar tahun 1740 M. Kebijakan Panembahan Mempawah ini kemungkinan atas saran dari Adik Opu Daeng Menambon yaitu Opu Daeng Celak yang saat itu sedang menjabat sebagai Raja Muda di Kesultanan Riau yang telah lebih dahulu mendatangkan pekerja dari Cina daratan untuk tambang timah di Kesultanan Riau dan berhasil dengan baik. Namun demikian saat itu Panembahan Mempawah mendatangkan orang-orang Cina untuk pekerja tambang (emas) pertama kali adalah berjumlah 20 orang (kemungkinan para pakar mencari emas) yang sebelumnya telah bekerja di Kesultanan Brunei.
Setelah itu didirikanlah pertambangan emas yang dikerjakan oleh orang-orang Cina yaitu di daerah Mandor yang saat itu merupakan wilayah Panembahan Mempawah. Setelah beberapa tahun mengerjakan tambang emas di Mandor ini, para pakar pencari emas dari Cina ini kemudian mengindikasikan satu tempat tak begitu jauh dari Mandor yang disinyalir banyak mengandung emas. Namun wilayah itu adalah wilayah kekuasaan dari Kesultanan Sambas yaitu daerah yang bernama Montraduk. Maka kemudian utusan pekerja tambang emas Cina ini menghadap Sultan Sambas mengenai potensi emas di Montraduk ini. Mendengar hal demikian Sultan Sambas kemudian mengijinkan untuk membuka tambang emas di Montraduk oleh orang-orang Cina dengan syarat bagi hasil yaitu sebagian hasil emas adalah untuk pekerja tambang dari Cina ini dan sebagian hasil yang lain adalah untuk Sultan Sambas sebagai pemilik Negeri. Maka kemudian dibukalah tambang emas di Montraduk pada sekitar tahun 1750 M yaitu tambang emas kedua setelah di Mandor.
Sungguh di luar dugaan bahwa potensi emas di wilayah Kesultanan Sambas ini sangat melimpah ruah. Setelah Montraduk berturut-turut dibuka lagi tambang emas di Seminis, Lara, Lumar yang semuanya di wilayah Kesultanan Sambas dan memberikan hasil emas yang sangat memuaskan. Sebagai dampaknya gelombang kedatangan orang-orang China semakin melimpah ke wilayah Kalimantan Barat ini khususnya di wilayah Kesultanan Sambas. Mereka berdatangan berdasarkan pertalian keluarga, sekampung halaman atau sesama kumpulan sehingga kemudian pada sekitar tahun 1770 M telah ada sekitar lebih dari 20.000 orang-orang Cina pekerja tambang emas di wilayah Kalimantan Barat ini yang sekitar 70 % dari jumlah pekerja tambang emas itu adalah berada di wilayah Kesultanan Sambas yang berpusat di Montraduk.
Pada sekitar tahun 1775 M datang pemuka masyarakat Hakka dari China yang bernama Lo Fong Pak ke daerah Kongsi yang ada di Wilayah Kesultanan Sambas.
Pada Tahun 1776 M 14 buah Kongsi yang ada di wilayah Kalimantan Barat ini yaitu 12 Kongsi di wilayah Kesultanan Sambas yang berpusat di Montraduk dan 2 buah Kongsi di wilayah Panembahan Mempawah yang berpusat di Mandor menyatukan diri dalam wadah lembaga yang bernama Hee Soon yaitu untuk memperkuat persatuan diantara mereka dari ancaman pertempuran antara sesama Kongsi seperti yang telah terjadi antara Kongsi Thai Kong dan Lan Fong di tahun 1774 M yang lalu. Salah satu dari 14 Kongsi itu adalah Kongsi Lanfong yang dihidupkan lagi oleh Lo Fong Pak dengan Lo Fong Pak sendiri yang menjadi ketuanya.
Setahun kemudian yaitu pada tahun 1777 M Lo Fong Pak memindahkan lokasi Kongsi Lan Fong ke lokasi lain dimana lokasi Kongsi Lan Fong yang baru ini tidak lagi diwilayah Kesultanan Sambas tetapi adalah di wilayah Panembahan Mempawah yaitu Mandor (Tung Ban Lut).
Walaupun telah mempunyai Kelompok Induk yaitu Hee Soon, Kongsi-Kongsi ini tetap menyatakan tunduk dibawah Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah dimana 12 Kongsi tunduk dibawah naungan Sultan Sambas dan 2 Kongsi tunduk dibawah naungan Panembahan Mempawah. Namun Kongsi-Kongsi diberi kewenangan untuk mengangkat pemimpin Kongsi dan mengatur pertambangan serta wilayah sekitarnya sesuai dengan lokasi tambangnya (semacam daerah otonomi distrik).
Di Mandor, Lo Fong Pak, Ketua Kongsi Lan Fong kemudian menyatukan orang-orang Hakka yang ada di wilayah Mandor dalam organisasi yang bernama San Shin Cing Fu (karena di wilayah Mandor saat itu juga terdapat orang-orang Cina selain Suku Hakka / Khek yaitu orang Thio Ciu, berbeda dengan Kongsi-kongsi Cina yang ada di wilayah Kesultanan Sambas yang seluruhnya adalah dari Suku Hakka / Khek).
Pada tahun 1778 M terjadi peninggkatan derajat kekuasaan di daerah Muara Sungai Landak dimana Syarif Abdurrahman Al Qadri yang tadinya Ketua dari Kampung Pontianak (terbentuk pada tahun 1771 M) yang terletak di Muara Sungai Landak kemudian pada tahun itu mengangkat dirinya menjadi Sultan pertama dari Kesultanan Pontianak. Berdirinya Kesultanan Pontianak di Muara Sungai Landak ini kemudian menimbulkan protes keras dari Raja Kerajaan Landak karena secara historis wilayah muara Sungai Landak adalah merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Landak. Namun VOC Belanda karena kepentingan ekonomi terhadap daerah muara Sungai Landak ini kemudian berdiri di belakang Kesultanan Pontianak sehingga membuat Raja Landak mengendurkan protes kerasnya.
Berkuasanya Sultan Syarif Abdurrahman di muara Sungai Landak sedikit banyak membuat Kongsi Lan Fong bergantung pada aktivitas di muara sungai itu sehingga inilah salah satu yang kemudian membuat Lo Fong Pak lebih dekat kepada Sultan Pontianak dibandingkan kepada Panembahan Mempawah padahal Kongsi Lan Fong saat itu masih dibawah naungan dari Panembahan Mempawah.
Pada tahun 1789 M, Sultan Pontianak dengan dukungan Belanda melakukan serangan terhadap Panembahan Mempawah dengan tujuan merebut wilayah Panembahan Mempawah. Untuk mendukung serangan ini Sultan Pontianak saat itu juga mengajak Lo Fong Pak (Kongsi Lan Fong untuk ikut serta dalan serangan kepada Panembahan Mempawah ini dan Kongsi Lan Fong kemudian juga mengirimkan pasukannya membantu pasukan Sultan Pontianak. Menghadapi serangan ini, Panembahan Mempawah kalah yang kemudian Raja Panembahan Mempawah yaitu mengundurkan dirinya ke daerah Karangan dan kemudian menetap disana.
Sejak saat itu hubungan Lo Fong Pak (Kongsi Lan Fong) dengan Sultan Pontianak menjadi semakin kuat dan dekat sehingga kemudian Lo Fong Pak (Kongsi Lan Fong) diberikan kewenangan yang lebih luas lagi (semacam daerah otonomi khusus) namun tetap berada dibawah naungan Kesultanan Pontianak. Peristiwa ini terjadi ketika usia Lo Fong Pak mencapai usia 57 tahun yaitu pada sekitar tahun 1793 M.
Cara Pemilihan Ketua Kongsi Lan Fan saat itu menurut pemahaman zaman sekarang ini adalah sangat demokratis yaitu Ketua Kongsi dipilih melalui pemilihan umum oleh seluruh warga Kongsi. Karena cara pemilihan ini sehingga oleh sebagian orang yang menterjemahkan tulisan Yap Siong Yoen (anak tiri dari Kapitan Kongsi Lan Fang yang terakhir)dan tulisan J.J. Groot (sejarawan Belanda) mengenai Kongsi Lan Fang yang di interpretasikan terlalu jauh sehingga Kongsi Lan Fang diartikan adalah "Republik Lan Fang" padahal didalam kedua-dua tulisan itu tidak ada kata Republik. Disamping itu kata Republik adalah untuk sebutan bagi suatu negara / wilayah yang merdeka sedangkan Kongsi Lan Fang saat walaupun mendapat status otonomi khusus namun tetap berada dibawah naungan Kesultanan Pontianak sehingga bukan merupakan suatu negara merdeka. Oleh karena itu apa yang disebut sebagai "Republik Lan Fang" itu tidak pernah ada, yang ada adalah Kongsi Lan Fang yang mendapat status otonomi khusus dari Sultan Pontianak.
Lo Fang Pak kemudian terpilih kembali melalui sistem pemilihan umum untuk menjabat sebagai Ketua Daerah Otonomi Kongsi Lan Fong, dan diberi gelar dalam bahasa Mandarin "Ta Tang Chung Chang" atau Kepala Daerah Otonomi. Peraturan Kongsi Lan Fong menyebutkan bahwa posisi Ketua dan Wakil Ketua Kongsi Lan Fong harus dijabat oleh orang yang berbahasa Hakka.
Pusatnya tetap di Mandor dan Ta Tang Chung Chang (Ketua Kongsi) dipilih melalui pemilihan umum. Menurut aturannya, baik Ketua maupun Wakil Ketua Kongsi harus merupakan orang Hakka yang berasal dari daerah Ka Yin Chiu atau Thai Pu. Benderanya berbentuk persegi empat berwarna kuning, dengan tulisan dalam bahasa Mandarin "Lan Fang Ta Tong Chi". Bendera Lo Fong Pak (Ketua Kongsi Lan Fong) berwarna kuning berbentuk segitiga dengan tulisan "Chuao" (Jenderal). Para pejabat tingginya memakai pakaian tradisional bergaya Tionghoa, sementara pejabat yang lebih rendah memakai pakaian gaya barat. Kongsi Lan Fong tersebut mencapai keberhasilan besar dalam ekonomi dan stabilitas keamanan selama 19 tahun kepemimpinan Lo Fang Pak.
Dalam tarikh negara samudera dari Dinasti Qing tercatat adanya sebuah tempat dimana orang Ka Yin (dari daerah Mei Hsien) bekerja sebagai penambang, membangun jalan, mendirikan negaranya sendiri, setiap tahun kapalnya mendarat di daerah Zhou dan Chao Zhou (Teochiu) untuk berdagang. Sementara dalam catatan sejarah Kongsi Lan Fong sendiri terungkap bahwa setiap tahun mereka membayar upeti kepada Dinasti Qing seperti Annan (Vietnam).
Kejatuhan Lan Fong Kongsi
Lo Fong Pak meninggal pada tahun 1795, tahun kedua dideklarasikannya Daerah Otonomi Khusus tersebut (1793). Ia telah hidup di Kalimantan lebih dari 20 tahun. Pada usia ke 47 berdirinya Kongsi Lan Fong tersebut, yaitu pada masa pemerintahan Ketua Kongsi kelima, Liu Tai Er (Hakka: Liu Thoi Nyi), Belanda mulai aktif melakukan ekspansi di Indonesia dan menduduki wilayah tenggara Kalimantan. Liu Tai Er terbujuk oleh Belanda di Batavia (kini Jakarta) untuk menandatangani kesepakatan kerjasama dengan Belanda. Penandatanganan kesepakatan tersebut kemudian membuat Kongsi Lan Fong dalam pengaruh Belanda. Munculnya pemberontakan penduduk asli semakin melemahkan Kongsi Lan Fang. Kongsi Lan Fang kemudian kehilangan otonomi dan beralih dari daerah dibawah naungan Sultan Pontianak menjadi sebuah daerah protektorat Belanda. Belanda membuka perwakilan kolonialnya di Pontianak dan mengendalikan sepenuhnya Kongsi Lan Fong.
Pada tahun 1884 M Kongsi Thai Kong yang berpusat di Montraduk menolak diperintah oleh Belanda, sehingga Kongsi Tahi Kong diserang oleh Belanda. Belanda berhasil menduduki Thai Kong Kongsi, namun kongsi tersebut mengadakan perlawanan selama 4 tahun. Perlawan Kongsi Thai Kong terhadap Belanda ini juga kemudian melibatkan Kongsi Lan Fong sehingga Kongsi Lan Fong kemudian juga diserang Belanda dan ditaklukkan Belanda, menyusul kematian Liu Asheng (Hakka: Liu A Sin), Ketua Kongsi Lan Fong yang terakhir. Sebagian warga Kongsi Lan Fong kemudian mengungsi ke Sumatera. Karena takut mendapat reaksi keras dari pemerintahan Qing, Belanda tidak pernah mendeklarasikan Lan Fong sebagai koloninya dan memperbolehkan seorang keturunan mereka menjadi pemimpin boneka.